Dalam hidup ini, Tuhan menciptakan
segala sesuatu secara berpasangan. Dia menciptakan bumi dan langit, air dan
api, menghadirkan suka setelah duka, membuat tangis dan tawa, berkehendak
melapangkan setelah memberi kesempitan, dan…. Menciptakan makhluk yang
berpasangan untuk melangsungkan kehidupannya, wanita dan pria.
Begitu pula saya, sebagai makhluk
Tuhan yang membutuhkan hidup berpasangan, saya selalu berpikir bahwa saya
memiliki masa untuk mencari dan menentukan seseorang yang akan mendampingi
saya. Bukan perkara mudah memang, terkadang saya berada dalam beberapa pilihan
yang sama sama baik. Tetapi disitulah saya harus dapat bersikap, berpikir
secara dewasa, berorientasi pada masa depan dan menetapkan pilihan berdasarkan prioritas
lillahita’ala.
Jodoh memang Tuhan yang menentukan,
tetapi jika tak disertai dengan ikhtiar maka Tuhan enggan mempertemukan kita
dengan jodoh kita. Tuhan enggan membuka jalan untuk menuju rumah tangga.
Tuhan yang menghadirkan cinta,. Dia menganugerahkan
cinta kepada setiap insan yang Ia kehendaki. Dan tentu saja Tuhan menginginkan
kita menikmati cinta tersebut dengan jalan syar’i. Jalan yang ditentukan Tuhan
sebagai jalan menuju surga, iyah menikah! Tetapi hendaknya
kita bisa mengontrol perasaan cinta kepada sesama, karna sebaik-baiknya cinta adalah
cinta yang tak melebihi cinta terhadap Nya.
Ardhi
Muchzani, ST, sebuah nama yang penuh dengan cinta dan kasih sayang (menurut
saya, hehehe). Mungkin salah satu alasan mengapa Tuhan menciptakan nya adalah
untuk bertemu dengan saya, mengenal saya, menikahi saya dan menjaga saya,
eeeeaaaaa hahaha.
Kasih
sayang Tuhan kepada saya sangat nyata. Ia menghadirkan Ardhi dan
menganugerahkan cinta diantara kami. Kami yang sebelumnya hanya sebatas
tetangga, lalu kemudian menjadi teman seorganisasi, dan berakhir menjadi teman
hidup seperti sekarang.
Perjalanan
yang singkat, bahkan hampir masih tak bisa dipercaya bahwa saya menikah dengan
Ardhi, tetangga yang dari dulu saya kenal sebagai lelaki pendiam dan cuek.
Berawal dari guyonan hingga menjadi seserius ini.
Dibeberapa
kesempatan saya sempat ragu. Tapi keraguan saya segera menepis ketika saya
berpikir bahwa ini adalah syariat agama saya, yang tentu saja akan menjadi ladang
pahala bagi saya. Saya berjalan kesana kemari dalam labirin kehidupan,
menelusuri jalan-jalan yang tak jelas tujuannya, hingga sampai disini jalan
keluar yang ditunjukkan langsung oleh Tuhan, jadi mengapa saya ragu. iya kan? Inilah
jawaban dari teka-teki dan pertanyaan yang berkali-kali saya ajukan kepada
Tuhan. Siapa jodoh Novel? Siapa jodoh Novel? Siapa jodoh Novel?
29
Juli 2018 saya dikhitbah, setelah hanya sebulan kami pendekatan. Dan itu menjadi
bukti pertama bahwa Ardhi tulus mencintai saya. 23 November 2018, akad
pernikahan kami. Pernikahan kami diawali dengan niat yang ikhlas, niat ibadah
lillah, niat berjanji dihadapan Tuhan. Disinilah kehidupan kami dimulai,
kehidupan yang berbeda dari biasanya, kehidupan yang siap bahagia dan siap
menanggung beban bersama
Menikah
adalah ibadah yang berjalan seumur hidup, banyak hal menyenangkan yang bernilai
ibadah, Tuhan menghalalkan beberapa hal yang sebelumnya diharamkan, Namun,
ketika Tuhan menganugerahkan kenikmatan Nya, Tuhan juga telah mempersiapkan
ujiannya. Banyak medan jalan yang terjal, jurang-jurang yang curam, dan ombak
yang menghantam setelah pernikahan. Itulah ujian yang harus dilewati, menguji
janji kami untuk selalu bersama, bersama dalam iman dan takwa, serta saling
menguatkan satu sama lain.
Suami
ku, Ardhi Muchzani, ST. Lelaki sholeh bertanggung jawab. Ia adalah rumah. Ia seperti
atap yang melindungi saya dari panas dan hujan. Ia seperti dinding yang
membatasi saya dari pandangan dan fitnah. Ia seperti pintu yang mengarahkan
saya menuju surga. Ardhi adalah rumah tempat saya pulang, rumah yang didalam
nya penuh dengan berkah dan ridlo Allah.
Ardhi,
suami ku… bersamanya telah ku ikat segalanya. Kebahagiaan dan kedukaan. Ikatan
kokoh dalam janji suci pernikahan. Bersamanya istiqomah sampai akhir.
Ardhi
Muchzani, ST. Suamiku, Hidupku, Pahalaku, Surgaku.

