Sabtu, 27 Februari 2016

Masa Yang Seharusnya Tak Pernah Ada

Kenapa baru datang?
Apa lagi yang membuat mu datang?
Adakah hal yang belum terselesaikan?
          Aku telah kehilangan mu beberapa waktu yang lalu. Bukan kau saja yang berjuang, disini aku juga berjuang untuk tak lagi mengingat apapun tentang kita. Jangan kira kau saja yang merasakan perih, bahkan aku sendiri sampai tak ingin masuk kedalam masa itu lagi.
          Jangan terlalu membuatku seolah-olah aku sebagai tersangka dan kamu sebagai korban. Bukan juga aku membalas perlakuan mu terhadap ku. Tapi sebagai perempuan aku tak mengerti apa yang harus aku lakukan ketika aku hanya mengagumi  mu secara sepihak.
          Aku tak menyangkal bahwa aku pernah mengagumi mu terlalu banyak sehingga aku merasa menjadi sangat lemah atas perasaan ku sendiri.  Aku pernah menyayangimu entah sebagai apa, masih terlalu muda jika ku bilang perasaan itu sebagai cinta.
          Kau mungkin tak kan mengerti bahwa waktu ku mengagumi mu juga berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Hari ku, minggu ku, bulan ku, bahkan saat tahun berganti  pun aku masih mengagumi mu, masih entah sebagai apa.
          Butuh waktu yang lama pula untu memulihkan perasaan itu, menegembalikan nya ke masa ketika aku belum mengenalmu. Jangan kira aku tak berjuang seperti mu. Karna nyatanya aku lebih dulu berjuang untuk  selalu baik-baik saja di depan mu.
          Tapi setelah semuanya pulih, kau seenaknya datang. Kau mulai mendekati ku. Dan dengan bodoh nya aku justru menyambut mu ke dalam masa yang seharusnya tak perlu ada.  Aku mulai mengagumi mu kembali. Entah karena kepolosan ku saat itu atau karena rasa kege-eran , aku sangat tak mengerti bahwa aku sedang dipermainkan.
          Bahkan sebenarnya aku tau kau masih menjalin hubungan dengan kekasih mu. Tapi entahlah, aku tak peduli dengan itu. Yang terjelas bahwa aku senang saat bersama mu. Aku bahagia.
          Tapi kedekatan itu tak berlangsung lama. Kau mematahkan hati  ku lagi dan lagi. Walau memang status kita tak begitu jelas. Dengan seenak nya lagi kau pergi tanpa merasa telah  meninggalkan  sesuatu apapun. Dan lagi-lagi aku harus beerjuang membuang semua nya… semunya tentang mu.
          Aku pikir semua nya telah berakhir. Tapi aku salah. Entah berapa tahun kemudin, kamu datang kembali. Tapi kau datang  tanpa penyesalan apapun. Dan bodoh nya lagi, aku menyambut mu untuk kesekian kali. Kita menjalin hubungan lagi. Menjalin hubungan yang kebih baik dari sebelum nya, menurutku. Hubungan yang bukan hanya sekedar tanpa status, tetapi sebagai pasangan kekasih yang entah saling sayang atau hanya sepihak lagi. Yang jelas, perasaan ku tak sedalam sebelum nya.
          Dan lagi-lagi kita harus berakhir karena kesalahan ku. Kesalahan yang katamu telah membuat mu sakit sesakit-sakit nya. Dan di waktu yang TELAT itu lah aku baru saja sadar bahwa kau  sebenarnya juga menyayangi ku. Tetapi tetap saja telat bagi ku.Setelah nya, kau pergi lagi, kau hilang lagi.. iyah, lagi, lagi, lagi.. entah berapa kali…
          Tiga tahun kata mu, kau berjuang. Kemudian  kau datang lagi. Kau ceritakan semua keluh kesah mu, seolah-olah kau sedang menyidang ku. Lagi-lagi kau buat ku seperti tersangka. Aku tak menampik bahwa semuanya memang salah ku. Tapi perlu kau ingat, bahwa aku telah lebih dulu berjuang untuk sembuh dari luka karena mu.
          Jadi sudah berapa tahun? Dari sejak aku mengagumi mu secara sepihak, sejak umur ku belum cukup untuk merasakan perasaan yang harusnya tak dirasakan oleh gadis seusia ku waktu itu, hingga sekarang saat semua nya sudah terlanjur berubah. Kamu hanya datang pergi datang pergi seenak semau mu.
          Hari ini kau datang, entah besok akan seperti apa lagi. Pergi lagi? Atau tetap disini bertahan, menjaga ku sebagai  sahabat mu. Hari ini kau bilang  kau masih sama seperti tiga tahun yang lalu. Bahkan katamu, kau ingin mengulangi nya kembali. Tapi hari ini aku berhak tak percaya  lagi pada mu. Beberapa alasan kuat yang membuat ku ragu. Aku bukan lagi gadis bodoh yang beberapa tahun yang lalu  menyisakan waktu nya hanya untuk menulis nama mu di setiap halaman buku diary nya.

          Bukan nya aku membenci mu. Tapi kau rasa, masa itu sudah cukup untuk ditutup dan tidak untuk dibuka lagi untuk kesekian kali nya. Bisakah kita perbaiki hubungan kita dengan cara tak melukai satu sama lain, walau hanya sebagai sahabat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar