Kamis, 04 Mei 2017

Aku Berhenti

Aku berhenti.
Aku rasa aku akan berhenti sejak kau bercerita dengan bangga tentang masa lalu mu. Kau kira aku ini teman mu? Kau kira aku biasa saja mendengar ini itu  tentang masa lalu mu? Bahkan kau tak bisa menjaga perasaan, lantas bagaimana aku harus bertahan?
Aku berhenti.
Entah, rasanya aku bisa menyimpulkan apa yang berusaha ingin kau ceritakan pada ku. Tiba-tiba aku tau maksud mu. Kau bercerita panjang lebar tapi aku hanya diam dan mendengar mu. Kau bercerita ini itu dengan gampangnya seolah-olah aku teman mu.
Aku berhenti.
Aku akan berhenti mengejar mu. Aku rasa aku sudah menemukan alasan kenapa aku harus berhenti mengejar mu. Ya, seperti yang kau ingin kan waktu itu, keinginan mu agar aku tak terlalu mencintai mu.
Aku berhenti.
Silahkan lanjutkan perjalanan mu, dan aku berhenti mengejar mu. Aku sudah kelelahan mengerjar mu yang tak tau diri. Aku kelelahan mengikuti mu. Aku kelelahan mengerti mu. 
Karna nyatanya, seberapa jauh perjalanan mu yang aku ikuti, kau tak pernah menoleh kearah ku. Kau asyik sendiri dengan perjalanan mu. Kau cuek dan tak mau peduli. Tapi aku dengan bodoh nya masih saja bertahan dengan sakit hati ku ini. Aku sakit hati, aku sakit hati, AKU BENAR_BENAR SAKIT HATI. 
Tapi kali ini aku akan berhenti dan kembali. Aku tak mau berjalan terlalu jauh lagi. Aku akan kembali dan menemui orang yang lebih dulu telah menungguku untuk pulang 

Minggu, 30 April 2017

Biarkan Aku Berpura-pura


Ku mohon diam, biarkan aku berpura-pura. Biarkan aku berpura-pura mengatakan cinta kepada orang yang mecintai ku. Biarkan aku berpura-pura bahagia saat bersama nya. Biarkan aku berpura-pura bahwa aku baik-baik saja. Dan biarkan aku berpura-pura bahwa aku milik nya. Biarkan aku menjadi bodoh untuk saat ini atau bahkan selama nya.

Andai kau datang tidak seterlambat ini, mungkin aku tak  kan pernah berpura-pura seperti ini. Andai kau ada jauh sebelum dia ada di depan ku, mungkin aku tak kan menjadi bodoh seperti ini.
Apakah hubungan kita yang salah? Apakah perasaan kita yang tak seharusnya ada? Atau pertemuan kita yang tak tepat waktu?
Rasanya aneh. Bahkan aku adalah miliknya saat ini. Tapi perasaan ini mengatakan berbeda. aku hanya tau kamu, hanya memikirkan kamu. Dan sayang nya aku tak bisa mengakhirinya. Aku telah terikat janji. Janji yang saat ini baru aku sadari bahwa aku mengatakan dengan terpaksa.
Kau tentu tau posisi mu saat ini. Bagi mereka, mungkin kau bukan siapa-siapa. Tapi kau berhasil menempati tempat di hati ku. Tempat yang tak banyak orang tau, tempat yang hanya menjadi rahasia ku dengan Tuhan.
Tapi seperti nya kau tak mau tau. Aku tak percaya, orang-orang berkata kau menghindari ku tapi aku tak mau percaya. Bagaimana bisa aku percaya, aku tau tentang mu, aku mengenali mu. Kau bukan orang yang akan melarikan diri karena hal ini. Aku sangat mengenal mu.
Aku sangat mengenal mu, aku tau semua nya. Aku bahkan tau apa yang kau pikirkan sekarang. “Aku merindukan mu, novel”, “aku ingin memeluk mu, novel” kau mengatakan itu sekarang. Dan aku akan selalu berpikir seperti itu untuk memudahkan hati ku, agar tak patah setiap kali memikirkan mu.
Seberapa jauh kau menghindari ku, aku akan mendatangi mu. Besok, lusa dan setiap hari aku yang akan mendatangi mu. Berjalan kearah mu sampai aku kelelahan. Sampai aku lupa dan terbiasa tanpa mu.
Kau pandai dalam hal pergi, atau bahkan nanti kau bisa saja menghilang dari pandangan ku tanpa meninggalkan jejak. Tapi sebelum itu terjadi, aku akan mengunjungi mu, menghubungi mu, menangis, hingga memohon. Karna aku menyukai mu lebih dari nya. Tapi aku tau kau takkan peduli. Bahkan kau bilang, kau tak punya waktu untuk cemburu.
Apa kau tak melihat ku? Sebentar saja apa kau tak melihat ku? Apa  kau tak memikirkan apa yang sudah aku lakukan untuk mu? Kau bahkan mengabaikan ku, dan justru aku telah mengabaikan orang lain demi untuk peduli dengan mu.
Aku tau aku salah. Tapi jika nanti aku berkata “aku tak mencintai mu lagi”, aku mohon jangan percaya.
HAN STIKES

Sabtu, 15 April 2017

Harusnya tak perlu kenal

Sudah ku duga akhirnya bakal menjadi seperti ini. Yang berawal manis tak semuanya berakhir dengan manis pula. Apalagi tentang hubungan asmara. 
Harusnya aku tak perlu menyapa mu waktu itu, tak perlu juga kita kenalan, sampai bertukar nomor ponsel segala. Hanya karna berada di tempat yang sama, bukan berarti kita harus saling bertatap. Entah lah.. aku tak tau jika akhir nya jadi seperti ini. Sebagai mahasiswa KKN yang sedang mengabdi di daerah ku harus nya kau tak perlu sejauh ini. Tak perlu membuat ku jatuh sedalam ini. Kamu hanya orang asing bagi ku, ga sepatut nya kau datang dan mengambil semua nya.
Semua nya terasa cepat bagi ku. Aku ga ngerti bagaimana dan seperti apa jalan nya. Yang aku tau, aku telah sampai disini, di tempat yang harus nya tak aku datangi. Tempat yang mengharuskan aku bertemu dengan mu. Tempat yang memaksa ku untuk tetap disitu. Dan memaksa ku untuk merasakan perasaan yang harusnya tak perlu aku rasakan. 
Maaf.. aku terlalu cepat. Aku ga bisa bilang “aku tak peduli” karna nyatanya tiap hari bahkan tiap saat pun aku selalu mengharap kabar dari mu. Kita berkenalan juga tak lama, beberapa minggu setelah KKN mu dimulai dan akan berakhir seminggu lagi. Aku harap perasaan ini hanya ketertarikan biasa. 
Aku kacau hari ini sayang.. kau dengan gampang nya melarang ku untuk mneyayangi mu. Lalu kenapa kau memberi ku harapan  beberapa hari yang lalu? Bahkan dihadapan teman-teman mu pun kamu masih berani nya dekati aku.
Kau bilang kau mulai semangat melaksanakan tugas KKN mu semenjak kamu mengenal ku. Kau bilang kau krasan berada disini karna dekat dengan ku. Kau juga selalu senang dengan alasan yang membuat kamu datang ke rumah ku. 
Lalu kenapa kau melarang ku untuk jatuh cinta sama kamu? Kamu cukup bilang “terimaksih sudah menyayangi ku, terimakasih sudah perhatian, terimakasih sudah memberi semnagat” itu saja. Tidak perlu kau mengatakan ini itu yang semakin buat aku merasa bersalah telah menyayangi mu.
Harus bagaimana lagi? Aku sampai sejauh ini karna kamu yang menunjukkan jalan. Lalu kamu dengan gampang nya menyuruh ku balik arah. Haruskah aku balik? Dan membuang semua yang telah ku lalui bersama mu?
Tidak kah kau berpikir tentang ku? Tentang bagaimana cara ku menunggu kabar mu di tiap hari nya. Tentang mengapa aku begitu senang ketika kau hanya sekedar lewat di depan rumah ku. Tentang bagaimana cara ku agar aku bisa melihat mu walau dari jauh. Tentang beribu alasan ku untuk memancing mu agar kau juga berkata sayang pada ku. Dan tentang semua yang aku lakukan untuk sekedar ingin kamu tau tentang perasaan ku. 
Sampai berakhirnya masa KKN mu, aku harap perasaan ini akan hilang dengan sendirinya. Sampai kita tak berada di lingkungan yang sama lagi. Sampai kita tak saling menyapa lagi. Dan berpura-pura saling tak mengenal lagi. Karna aku tau saat ini aku sedang keterlaluan.
Terimakasih pak perawat yang sudah berhasil membuat ku jatuh cinta. Dan terimkasih atas nasehat-nasehat tentang kesehatan ku selama ini.   

Jumat, 17 Maret 2017

Masih Dengan xxx Yang Sama


Masih dengan orang yang sama, yang beberapa  tahun lalu sempat menjadi alasan ku bahagia, tetapi tak ku temui kejelasan tentang hubungan kami. Hingga akhir nya kami berpisah dipersimpangan jalan. Kemudian kami saling bahagia dengan pilihan masing-masing.
Masih dengan perasaan yang sama, hingga sampai kami sama-sama berpisah dengan pasangan masing-masing. Entah bagaimana bisa kami kembali ke persimpangan jalan itu. Bertemu lagi dan mulai bercerita.
Masih dengan keadaan yang sama, keadaan dimana hanya aku yang merasa nyaman tanpa tau tentang apa yang ada di hati nya. Sampai akhirnya hubungan kami menemukan kejelasan. Kami merajut lagi, memulai lagi hubungan yang beberapa tahun lalu sempat membuatku dilema.
Masih dengan kekhawatiran yang sama, khawatir tentang hubungan yang masih sedikit plinplan itu. Bagaimana tidak, rasanya hanya aku yang merasakan perasaan yang biasa mereka sebut dengan sayang. Tapi aku tak merasakan apa yang dia rasakan, yang ku yakini bahwa dia hanya terpaksa.
Kami bertemu malam itu, malam tahun baru 2017. Malam yang mengharuskan dia mengambil senjata di Surabaya. Dan dia hanya mampir untuk sekedar bertemu dengan ku. Dia menggenggam tangan ku, sesekali merangkul ku dalam dingin nya malam. Kami berjalan menyusuri taman dengan keadaan tak nyaman karna dia masih mengenakan seragam dinas nya. Dia tetap menggenggam tangan ku sampai kita berpisah dan dia melanjutkan perjalan nya. Setidaknya dia sempat membuatku bahagia walau pada akhir nya kami berpisah lagi dan lagi.
Tak selang waktu lama, hubungan kami berakhir dengan alasan yang menurutku tak pantas untuk menjadi alasan. Dia sibuk dengan rutinitas nya, aku sibuk dengan aktifitas ku, dan tak ada pengertian antara kami, hingga akhir nya berakhir sampai situ saja.
Mengejutkan, lelaki yang beberapa bulan lalu menggenggam tangan ku, saat ini sedang menggenggam tangan wanita lain. Secepat itu? Sedangkan aku disini masih berusaha menyembuhkan hati yang sengaja ia patahkan, berusaha menghilangkan perasaan kecewa, berusaha baik-baik saja dengan perpisahan kami.
Kecewa? Jelas kecewa… sedih, menyesal, semuanya berasa campur aduk. Tapi apapun yang aku dapati sampai sekarang, aku hanya bisa bersyukur. Dan semoga dia bahagia dengan pilihan nya.