Sebagai teman kerja ku, aku pikir aku hanya bisa mengagumi mu. Sebagai teman kerja ku, aku tak pernah berpikir aku akan bisa memiliki mu kemarin. Sebagai teman kerja ku, aku pun tak pernah memikirkan apa yang akan terjadi dengan kita nanti.
Nyatanya kau yang memulai semuanya, mendekati ku, menumpahkan harapan, dan dengan terlena ku kau berhasil memiliki ku.
Aku masih mengenang bagaimana hari-hari kita berjalan. Aku masih mengenang bagaimana hari ku dipenuhi dengan senyum mu. Bahkan aku masih saja mengenang bagaimana waktu sesaat yang kita lewati bersama kala itu, waktu yang mengharuskan aku dan kamu saling berpelukan merasakan segala yang kita rasa.
Aku masih tak bisa mengabaikan apa yang terjadi saat ini.
Kenyataan bahwa saat ini hanya ada aku dan kau, bukan kita.
Dua hari sudah hati ku merasakan siksa. Dua hari sudah aku menemukan berbagai masalah dengan diriku sendiri. Dan dua hari sudah seluruh tubuh ini begitu malas untuk melakukan aktifitas-aktifitas seperti biasanya.
Aku sudah kehilangan. Bukan saja perasaan, tetapi juga harapan yang selalu aku selipkan disetiap ba’da sholat ku. Aku kehilangan segala yang membuatku bersemangat memulai hari-hari ku.
Dan yang paling begitu menyakitkan, aku kehilangan kamu.
Andai waktu itu tak terjadi. Andai kau tak menanyakan mengapa aku tak masuk kerja waktu itu. Andai kau tak menghubungi ku seintens itu. Andai kau tak meperlihatkan kemampuan mu yang semakin hari semakin membuat ku nyaman. Mungkin sekarang tak kan seberat ini bagi ku.
Iya, aku tak kan menyesali waktu yang terlewat manis bersama mu, walau hanya beberapa saat saja. Beberapa saat aku merasa menjadi wanita beruntung karna menjadi pilihan mu. Dimana hari-hari ku hanya ku habiskan untuk sekedar menunggu pesan dari mu, entah hanya menanyakan kabar, menanyakan aktifiitas ku, berkata rindu atau bahkan mengucap kalimat ingin bertemu.
Dan saat itu, penantian ku tak pernah menjadi sia-sia. Karna kau memang rajin mengabari ku, disela sibuk mu, bahkan disela lelah mu. Kau rajin menanyakan pola makan ku, dan hal-hal yang mungkin tak penting untuk dipertanyakan. Tapi aku sama sekali tak keberatan, bahkan kelewat senang dengan pertaanyaan-pertanyaan mu itu.
Entahlah, itu hanya berlangsung beberapa saat. Yang saat ini sudah jauh berbeda. Tepatnya sudah beberapa hari lalu, ketika kau memiliki kesibukan baru. Entah, aku yang tak bisa mengerti atau bagaimana. Tapi yang jelas bukan hanya berkurang waktu untuk mengabari ku, tetapi juga sikap mu yang begitu banyak berubah. Semakin hari semakin memupuk rasa kecewa ku.
Detik, menit, jam bukan lagi menjadi momen yang paling membahagiakan bagi ku. Semuanya yang terlewati saat ini adalah kesunyian yang berangsur parah. Apa aku tak lagi menenangkan bagi mu? Apa peluk ku tak lagi menghangatkan bagi mu? Apa aku bukan lagi menjadi siapa-siapa bagi mu? Dan mungkin pertanyaan yang sangat menyesakkan adalah apakah sudah ada wanita lain penggati ku?
Dua hari sudah aku kehilangan mu. Mengapa sampai sesakit ini? Bagaimana nanti ketika aku harus menatap mu? Berjabat tangan dengan mu setiap pagi? Menghabiskan waktu disela jam istirhata bersama mu? Sedang kita berada di kantor yang sama.
Akankah profesionalitas akan tetap berlaku bagi ku yang hatinya benar-benar sedang terluka? Bagaimana bisa aku terlihat baik-baik saja di depan murid-murid kita. Sedang aku tak bisa sedetik saja melupakan hal ini. Semuanya terngiang dibenakku tanpa bisa aku hindari. Semuanya, tentang pertemuan hingga perpisahan ini.
Nyatanya kau yang memulai semuanya, mendekati ku, menumpahkan harapan, dan dengan terlena ku kau berhasil memiliki ku.
Aku masih mengenang bagaimana hari-hari kita berjalan. Aku masih mengenang bagaimana hari ku dipenuhi dengan senyum mu. Bahkan aku masih saja mengenang bagaimana waktu sesaat yang kita lewati bersama kala itu, waktu yang mengharuskan aku dan kamu saling berpelukan merasakan segala yang kita rasa.
Aku masih tak bisa mengabaikan apa yang terjadi saat ini.
Kenyataan bahwa saat ini hanya ada aku dan kau, bukan kita.
Dua hari sudah hati ku merasakan siksa. Dua hari sudah aku menemukan berbagai masalah dengan diriku sendiri. Dan dua hari sudah seluruh tubuh ini begitu malas untuk melakukan aktifitas-aktifitas seperti biasanya.
Aku sudah kehilangan. Bukan saja perasaan, tetapi juga harapan yang selalu aku selipkan disetiap ba’da sholat ku. Aku kehilangan segala yang membuatku bersemangat memulai hari-hari ku.
Dan yang paling begitu menyakitkan, aku kehilangan kamu.
Andai waktu itu tak terjadi. Andai kau tak menanyakan mengapa aku tak masuk kerja waktu itu. Andai kau tak menghubungi ku seintens itu. Andai kau tak meperlihatkan kemampuan mu yang semakin hari semakin membuat ku nyaman. Mungkin sekarang tak kan seberat ini bagi ku.
Iya, aku tak kan menyesali waktu yang terlewat manis bersama mu, walau hanya beberapa saat saja. Beberapa saat aku merasa menjadi wanita beruntung karna menjadi pilihan mu. Dimana hari-hari ku hanya ku habiskan untuk sekedar menunggu pesan dari mu, entah hanya menanyakan kabar, menanyakan aktifiitas ku, berkata rindu atau bahkan mengucap kalimat ingin bertemu.
Dan saat itu, penantian ku tak pernah menjadi sia-sia. Karna kau memang rajin mengabari ku, disela sibuk mu, bahkan disela lelah mu. Kau rajin menanyakan pola makan ku, dan hal-hal yang mungkin tak penting untuk dipertanyakan. Tapi aku sama sekali tak keberatan, bahkan kelewat senang dengan pertaanyaan-pertanyaan mu itu.
Entahlah, itu hanya berlangsung beberapa saat. Yang saat ini sudah jauh berbeda. Tepatnya sudah beberapa hari lalu, ketika kau memiliki kesibukan baru. Entah, aku yang tak bisa mengerti atau bagaimana. Tapi yang jelas bukan hanya berkurang waktu untuk mengabari ku, tetapi juga sikap mu yang begitu banyak berubah. Semakin hari semakin memupuk rasa kecewa ku.
Detik, menit, jam bukan lagi menjadi momen yang paling membahagiakan bagi ku. Semuanya yang terlewati saat ini adalah kesunyian yang berangsur parah. Apa aku tak lagi menenangkan bagi mu? Apa peluk ku tak lagi menghangatkan bagi mu? Apa aku bukan lagi menjadi siapa-siapa bagi mu? Dan mungkin pertanyaan yang sangat menyesakkan adalah apakah sudah ada wanita lain penggati ku?
Dua hari sudah aku kehilangan mu. Mengapa sampai sesakit ini? Bagaimana nanti ketika aku harus menatap mu? Berjabat tangan dengan mu setiap pagi? Menghabiskan waktu disela jam istirhata bersama mu? Sedang kita berada di kantor yang sama.
Akankah profesionalitas akan tetap berlaku bagi ku yang hatinya benar-benar sedang terluka? Bagaimana bisa aku terlihat baik-baik saja di depan murid-murid kita. Sedang aku tak bisa sedetik saja melupakan hal ini. Semuanya terngiang dibenakku tanpa bisa aku hindari. Semuanya, tentang pertemuan hingga perpisahan ini.
Aku telah kehilangan mu dua hari yang lalu. Dan ijinkan aku untuk melewati beberapa hari lagi untuk bisa merelakan mu. Karna merelakan mu, nyatanya tak semudah yang aku bayangkan.
(AP)
(AP)