Rabu, 24 Januari 2018

Hanya Ada Aku Dan Kau, Bukan Kita!

Sebagai teman kerja ku, aku pikir aku hanya bisa mengagumi mu. Sebagai teman kerja ku, aku tak pernah berpikir aku akan bisa memiliki mu kemarin. Sebagai teman kerja ku, aku pun tak pernah memikirkan apa yang akan terjadi dengan kita nanti.
Nyatanya kau yang memulai semuanya, mendekati ku, menumpahkan harapan, dan dengan terlena ku kau berhasil memiliki ku.
Aku masih mengenang bagaimana hari-hari kita berjalan. Aku masih mengenang bagaimana hari ku dipenuhi dengan senyum mu. Bahkan aku masih saja mengenang bagaimana waktu sesaat yang kita lewati bersama kala itu, waktu yang mengharuskan aku dan kamu saling berpelukan merasakan segala yang kita rasa.
Aku masih tak bisa mengabaikan apa yang terjadi saat ini.
Kenyataan bahwa saat ini hanya ada aku dan kau, bukan kita.
Dua hari sudah hati ku merasakan siksa. Dua hari sudah aku menemukan berbagai masalah dengan diriku sendiri. Dan dua hari sudah seluruh tubuh ini begitu malas untuk melakukan aktifitas-aktifitas seperti biasanya.
Aku sudah kehilangan. Bukan saja perasaan, tetapi juga harapan yang selalu aku selipkan disetiap ba’da sholat ku. Aku kehilangan segala yang membuatku bersemangat memulai hari-hari ku.
Dan yang paling begitu menyakitkan, aku kehilangan kamu.
Andai waktu itu tak terjadi. Andai kau tak menanyakan mengapa aku tak masuk kerja waktu itu. Andai kau tak menghubungi ku seintens itu. Andai kau tak meperlihatkan kemampuan mu yang semakin hari semakin membuat ku nyaman. Mungkin sekarang tak kan seberat ini bagi ku.
Iya, aku tak kan menyesali waktu yang terlewat manis bersama mu, walau hanya beberapa saat saja. Beberapa saat aku merasa menjadi wanita beruntung karna menjadi pilihan mu. Dimana hari-hari ku hanya ku habiskan untuk sekedar menunggu pesan dari mu,  entah hanya menanyakan kabar, menanyakan aktifiitas ku, berkata rindu atau bahkan mengucap kalimat ingin bertemu.
Dan saat itu, penantian ku tak pernah menjadi sia-sia. Karna kau memang rajin mengabari ku, disela sibuk mu, bahkan disela lelah mu. Kau rajin menanyakan pola makan ku, dan hal-hal yang mungkin tak penting untuk dipertanyakan. Tapi aku sama sekali tak keberatan, bahkan kelewat senang dengan pertaanyaan-pertanyaan mu itu.
Entahlah, itu hanya berlangsung beberapa saat. Yang saat ini sudah jauh berbeda. Tepatnya sudah beberapa hari lalu, ketika kau memiliki kesibukan baru. Entah, aku yang tak bisa mengerti atau bagaimana. Tapi yang jelas bukan hanya berkurang waktu untuk mengabari ku, tetapi juga sikap mu yang begitu banyak berubah. Semakin hari semakin memupuk rasa kecewa ku.
Detik, menit, jam bukan lagi menjadi momen yang paling membahagiakan bagi ku. Semuanya yang terlewati saat ini adalah kesunyian yang berangsur parah. Apa aku tak lagi menenangkan bagi mu? Apa peluk ku tak lagi menghangatkan bagi mu? Apa aku bukan lagi menjadi siapa-siapa bagi mu? Dan mungkin pertanyaan yang sangat menyesakkan adalah apakah sudah ada wanita lain penggati ku?
Dua hari sudah aku kehilangan mu. Mengapa sampai sesakit ini? Bagaimana nanti ketika aku harus menatap mu? Berjabat tangan dengan mu setiap pagi? Menghabiskan waktu disela jam istirhata bersama mu? Sedang kita berada di kantor yang sama.
Akankah profesionalitas akan tetap berlaku bagi ku yang hatinya benar-benar sedang terluka? Bagaimana bisa aku terlihat baik-baik saja di depan murid-murid kita. Sedang aku tak bisa sedetik saja melupakan hal ini. Semuanya terngiang dibenakku tanpa bisa aku hindari. Semuanya, tentang pertemuan hingga perpisahan ini.
Aku telah kehilangan mu dua hari yang lalu. Dan ijinkan aku untuk melewati beberapa hari lagi untuk bisa merelakan mu. Karna merelakan mu, nyatanya tak semudah yang aku bayangkan.
(AP)

Minggu, 14 Januari 2018

Berakhir

Berakhir.
Entah dari mana cerita ini berawal, aku hampir tak ingat peristiwa itu. Yang menjadi ingatan dalam benak ku sampai sekarang hanya tentang perpisahan kita. Perpisahan yang menyisakan banyak luka dan banyak pertanyaan pula.
Sampai sekarang masih banyak pertanyaan yang belum sempat terjawab oleh mu. Mengapa perkenalan itu terjadi? Mengapa kau memberi banyak harapan? Mengapa kau pula yang mematahkan harapan itu? Mengapa? Mengapa? Dan banyak lagi mengapa mengapa lain yang masih berada dibenak ku.
Teka-teki yang tak bisa ku selesaikan sendiri, karena nyatanya aku tak banyak mengenali mu, tak mengerti banyak tentang jalan fikiran mu, apalagi tentang perasaan mu. Aku sama sekali tak bisa menebak apapun yang sedang kau pikirkan, aku rasa aku sudah tertipu dengan sikap mu itu. Sikap yang selalu berusaha meyakinkan ku akan masa depan, kebahagiaan, kesederhanaan dan kesetiaan.
Berakhir.
Sudah berakhir tanpa cerita panjang.
Tak seperti cerita-cerita lainya yang berlangsung dengan banyak episode, maka cerita kita hanya berhenti di tengah jalan. Kisah yang awalnya aku banggakan didepan teman-teman ternyata bertemu dengan akhirnya juga. Berakhir dengan malu ku pada teman-teman pula. Bagaimana tidak, kau bilang kau berencana akan mengikatku dalam waktu dekat, tapi ternyata hanya kekecewaan yang sedang kau rencanakan. Apa kau sadar bukan hanya aku yang sedang kau kecewakan, tapi juga orang tua ku.
Bukankah aku pernah hampir sampai mengakhiri hubungan kita karena sesuatu yang membuatku tak nyaman waktu itu. Tapi kau terus meyakinkan ku dan bilang kau akan membuktikan semuanya dengan membawa masa depan yang bahagia. Dan ternyata masa depan yang seperti apa? Bahagia dari mana? Omong kosong!
Sampai sekarang aku tak mengerti dengan keputusan mu yang tiba-tiba menghilang dengan meninggalkan beribu pertanyaan ini. Aku masih juga bertanya mengapa, salah ku dimana. Kadang aku lebih memilih menyalahkan diriku sendiri agar tak terlalu dalam penyesalan ku terhadap mu. Mungkin saja aku tak pantas menyanding pria hebat seperti mu.
Aku hanya sedang tak menyangka, sedang tak percaya. Aku kira kau pria hebat, religious, dewasa dan bertanggung jawab. Tapi perkiraan ku ternyata salah, salah besar! Kau bukan pria seperti itu. Kau bahkan tak patut untuk dipercaya. Maka kelak kecewa ku ini akan menjadi pengingat mu saat kau kecewa dengan keadaan yang lebih dari ini. Karena saat saat itu pasti akan datang.