Jumat, 27 Februari 2015

Percakapan Pertama Kita



Seperti hari-hari sebelum nya, aku masih tetap menjadi penggemar rahasia mu. Ketika itu kau berdiri membelakangi ku dengan jarak beberapa meter didepan ku. Bukan kendali ku, sesuatu yang aneh membujuk  ku untuk terus memandangi mu. Alasan nya, aku sendiri kurang begitu tau. Beberapa saat aku melamuni keberadaan mu yang tak jauh dari tempat ku berdiri waktu itu, kau memutar badan mu dan melihatku. Dengan lamunan yang masih saja belum buyar, kau mendatangiku dengan senyuman khas mu. Aku masih mengira itu adalah bagian dari lamunan ku. Hingga akhirnya aku tersadar bersama tepukan tangan mu di pundak ku. Kau menyapa ku. Beberapa saat aku sempat berpikir dari mana kau tau nama ku. Sudahlah, itu tak begitu penting.
       Percakapan pertama kita semakin meninggalkan rasa kagum ku terhadap mu. Dari situ, aku sedikit mengenalmu. Sedikit tau tentang mu. Kau bercerita banyak waktu itu, sesekali kau selipkan candaan yang semakin membuat ku begitu nyaman berada didekat mu. Sebelum nya bahkan tak sampai berpikir bahwa aku akan mempunyai kesempatan untuk bisa sekedar bergurau dengan mu seperti waktu itu.  Walau aku kurang begitu paham dengan bahan obrolan mu yang mengulik bagian-bagian sastra, tapi aku berusaha semampu ku untuk mengimbangi topik pembicaraan mu itu. Sementara kau bicara panjang lebar tentang sastra, aku hanya bisa menatap mu dengan memikirkan apa lagi yang harus aku tanyakan kepada mu tentang sastra agar percakapan kita tak begitu saja berakhir, karena aku masih sangat ingin bercakap lebih lama dengan mu. Aku tak mungkin menanyakan tentang tugas-tugas kuliah ku, itu terlalu konyol. Bagaimana tidak, kita berbeda jurusan. Kau pasti takkan lebih paham tentang seluk beluk ekonomi yang akan ku tanyakan. Jadi sebisa mungkin aku mempertahan kan pembicaraan tentang sastra itu.
       Percakapan itu berakhir di jam yang mengharuskan mu menemui dosen pembimbing skripsi. Aku masih belum percaya bahwa aku baru saja berbicara panjang lebar dengan mu, walau sedikit pun aku tak memahami apa yang baru saja kau bicarakan. Setidak nya aku senang bisa menatap mu sedekat itu. Kau beranjak ke ruang dosen dan aku tetap berdiri ditempat dengan hati kegirangan ku. Kau tau? Hal itu menjadi penantian ku selama ini.
       Setelah perkenalan itu, kau rajin menghubungi ku via telepon. Dengan perhatian-perhatian yang pernah ku inginkan darimu. Dengan sapaan hangat ditiap pagi ku. Dan lain-lain darimu. Kemarin. kau bercerita panjang lebar lagi, kali ini tentang proses skripsi mu. Aku hanya bisa jadi pendengar dan sesekali menjadi penanya, itu saja. Aku sangat kalah jauh bepengalaman nya dengan mu, maka dari itu aku sangat hati-hati dalam pembicaraan ku. Kita baru kenal, tapi rasanya kau sangat mampu menjadi abang yang menyenang kan buat ku. Walau sebenarnya aku menginginkan mu lebih dari sekedar abang.

Jumat, 20 Februari 2015

Kekonyolan ku



Malam ini aku masih belum bisa terlelap dalam tidur ku. Beberapa menit yang lalu aku sengaja menguntit akun sosmed mu. Tak ku dapati apapun disitu, yang terpajang hanya foto mu dengan kue ulang tahun mu beberapa waktu lalu. Aku sempat berharap ada beberapa kode rindu yang sengaja kau alamatkan kepada ku. Tapi… ya sudahlah aku tetap masih terlihat tolol dengan keadaan saat ini. Apakah kau selalu ingin melihatku tersiksa dengan kebodohan yang sering kusebut sebagai kekuatan menunggu mu?
      Kabar mu memang tak lagi ku dapati, itulah mengapa aku ingin selalu memimpikan mu. Namun malam ini aku masih  tetap tak bisa memejamkan mata ku. Entah apa yang sedang membius pikiran ku. Di hadapan ku saat ini hanya album kenangan yang sengaja kau berikan saat ulang tahun ku November lalu, dimana terdapaat gambar ku dan gambar mu berdampingan ditempat yang sama, dihalaman yang sama. Aku bolik-balik  beberapa kali pun tetap yang ku temui hanya gambar ku dan gambar mu. Dipelukan ku saat ini ada boneka squarepants, kado saat anniversary pertama hubungan kita. Boneka yang mulai lusuh karena pelukan ku yang mendekap erat tubuh nya hingga tak lagi berbentuk kotak. Dan tak lagi kuning karena bulir air mata ku yang selalu jatuh saat aku memeluk nya.
 Mungkin terlalu naïf jika ku bilang aku baik-baik saja. Saat kau memutuskan untuk mengakhiri semua nya dengan jalan mu sendiri, aku masih sangat menerima. Karna ku pikir, ini akan menjadi jalan terbaik untuk kita. Aku tak mungkin berdebat dan menahan mu untuk tetap disini dengan nada bicara yang memelas. Aku tak ingin terlihat selemah itu. Kau tau, betapapun aku berusaha membenci mu, melawan perasaan ku sendiri untuk mengubur kenangan tentang mu, aku tetap tak punya kekuatan besar untuk itu.
Kau sedang apa? Kau pasti sangat bahagia dengan wanita pilihan mu saat ini. Karna kau tak perlu lagi menyisakan waktu untuk repot-repoy bertengkar seperti saat kau masih bersama ku. Aku selalu berharap kau akan selalu baik-baik saja. Jelas saja kau baik-baik saja, bahkan kau dengan bangga memamerkan beberapa foto mesra mu dengan dia. Itu sudah cukup membuktikan bahwa kau sedang sangat baik-baik saja dan bahagia.
Apa kau merindukan ku? Hahaha pertanyaan konyol apa lagi ini. Aku bahkan sampai tak bisa sadar diri. Bagaimana mungkin kau merindukan wanita yang katamu selalu menyakiti mu ini. Yang katamu tak lagi bisa jadi seperti yang kau mau. Bukan… aku bukan maksud apapun. Aku hanya ingin menulis disela malam yang sengaja tak mengijinkan aku tidur lebih awal. Bukan untuk memohon mu untuk kembali. Aku hanya merindukan mu. itu saja.

Rabu, 18 Februari 2015

Harapan Dalam Rintihan



Mereka menerjemahkan tentang kehidupan nya
Mereka hanya tau tentang apa yang mereka tau
Seakan mereka buta dengan sisi lain yang dia punya
Kemudian memperlakukan nya seperti yang mereka mau

Dia yang kalah dalam pergulatan dunia
Dia yang diledek oleh tinggi nya impian
Kadang dia lelah karena sejuta harapan
Kadang dia takut karena takdir kebenaran

Tetapi…
Tapi perjuangan nya tak pernah luntur
Berjuang dalam kehidupan yang pernah hancur
Menentang kisah untuk perasaan yang luhur
Agar kelak sejahtera dalam seribu umur

Aku melihat sendiri, bagaimana dia berjalan
Menempuh jarak dengan kebahagiaan
Demi untuk pendidikan yang ia banggakan
Demi masa depan yang ia inginkan
Demi kedamaian yang ia rindukan

Ia tak ingin kekayaan, tak ingin jabatan
Tak ingin pujian, apalagi kesenangan
Ia hanya memiliki secuil harapan dalam rintihan
Untuk sedikit penghargaan dan kasih sayang

Bagi nya kemiskinan bukan penghalang
Akan ada waktu sebagai pembuktian
Usaha sabagai kesaksian, doa sebagai kekuatan
Dan berakhir dengan senyum kebanggaan

Kamis, 05 Februari 2015

Menunggu Mu



      Di balik kisah kemarin, sapaan kemarin, perkenalan kemarin, aku masih bisa menggenggam penuh peristiwa itu. Celotehan mu tengah malam diujung telepon, tawa mu bagai pengikis hening, segala tentang diri mu saja dan selalu. Ingatkah dengan janji yang kau ucap dengan gaya bicara mu yang khas yang biasa kau campur dengan candaan namun penuh keyakinan? Beribu cara menjadi langkah jitu mu untuk sekedar menghibur dan menemani hari-hari ku. Kesadaran mu untuk selalu ada untuk ku walau hanya dengan wujud suara mendapat penghargaan mahal dari ku. Teramat pahit jika semua nya hanya akan berakhir sebagai kenangan yang tak berkelanjutan.
      Sehari, dua hari, perasaan itu datang dengan tak permisi dan sengaja menjadi racun pembius hati. Tak cukup waktu untuk sekedar berdiskusi dengan diriku sendiri tentang rasa yang aneh itu. Tak sengaja pula aku setuju bahwa hal ini seperti menjadi hal yang paten, yang tak bisa ku sangkal dan ku hindari. Yah benar, aku mencintai mu. Entah dengan alasan apa. Aku tak punya jawaban yang masuk akal untuk pertanyaan itu. Ini bukan lagi dilema, tapi satu keyakinan yang aku sendiri belum bisa menjelaskan mengapa bisa. Perasaan aneh ini muncul dan tiba-tiba menjadi tuan yang menjadikan ku budak dan memperdayakan diriku sendiri. Aku sangat ingin kau tau. Namun, ini bukan porsi ku, aku wanita dan sangat tak pantas berbicara tentang perasaan yang tiba-tiba ada itu.
      Kenyamanan yang ku dapati dari dirimu, dengan segala perhatian dan tutur lembut mu, dengan gampang menjadikan hati luluh bersama santun nya sikap mu. Aku tak sadar telah jatuh, telah tersanjung, telah terlena. Aku tak bisa lupa ketika kau menyambut pagi mu dengan menyapa ku dan menutup malam mu dengan selalu bercerita tentang hiruk pikuk nya hari mu dari pagi hingga malam itu, seakan aku menjadi  diary digital mu. Tetapi aku sangat senang bisa menjadi kepercayaan mu.
      Hari-hari penuh keceriaan itupun berlalu. Cerita yang ku dengar setiap malam itupun tak bisa lagi ku dengar. Aku bagai diary yang telah tutup halaman. Kau tiba-tiba melukis luka hati, menyayat nya dengan langkah kepergian mu. Kabar tentang mu tak lagi ku dapati. Celotan, candaan dan tawa mu seketika menjadi keheningan ditengah kerinduan yang sedang bergelut melawan pertahanan hati ini. Aku sangat tak bisa menerima nya. Tangis ini pun pecah seketika, hingga tak sanggup menjadi penenang, tak sanggup menjadi ungkapan, tak sanggup menjadi hal yang meringankan.
      Aku masih menanti mu, bahkan hingga saat ini. Aku masih menunggu. Inilah secuil harapan dari perempuan lugu yang tak mengerti arti perpisahan yang telah terjadi, ia terus berharap tanpa peduli realita. Tak cukup jika ku hanya menulis keluhan ku seperti ini. Entah bait bait doa ku telah tersampaikan kepada Tuhan atau sedang tersendat oleh pikiran-pikiran buruk ku sendiri. Aku tak tau. Rasanya aku hanya bisa memeluk mu dengan doa kerinduan ku ini.
      Saat ini aku masih disibukkan dengan rutinitas konyolku, kebiasaan yang aku sendiri tak tau sampai kapan harus ku lakukan. Yah menunggu mu! itu lah hal yang seperti menjadi kebutuhan dihari-hari ku. Sangat konyol dan tak sama sekali menyenangkan, tetapi rasanya aku tak pernah bosan. Aku masih sangat sukar memahami bahwa kau sejatinya telah melangkah jauh, pergi, tanpa seijin ku. Aku menunggu mu mas! LLL

Rabu, 04 Februari 2015

Lagi-Lagi Harus Mengerti



      Mungkin aku hanya wanita perindu yang tak tau diri.  Kau memang milik ku, namun aku merasa tak benar-benar telah memiliki mu: raga mu, tawa mu, hingga waktu mu. Aku masih merasa seperti orang asing yang beberapa waktu lalu kau temukan dari sepi mu. Aku masih menjadi sosok dari pelampiasan hening waktu.
      Seebelum mengenal mu, aku lebih dulu mengenal pria yang seprofesi dengan mu. Aku belajar dari pengalaman bersama nya. Dari nya aku paham bagaimana menghargai hak dan kewajiban orang lain. Namun, tau kah kau bahwa aku ini kekasih mu? Aku mengerti kewajiban mu, namun tak pantaskah ku sedikit menuntut hak ku?
      Sedari pagi kau berangkat mengabdi untuk negeri mu, bahkan sebelum aku terbangun dari tidur malam ku. Perbedaan waktu antara kota ku dan kota mu terkadang menjadi  hal  yang ku kesalkan. Bagaimana tidak, ia justru menyatukan waktu santai mu dengan waktu sibuk ku. Hal terburuk adalah ketika tak ada cukup waktu untuk sekedar bercengkrama dengan mu.
      Selepas sore, ketika waktu dinas mu usai, entah kesibukan apalagi yang harus kau geluti. Aku masih sangat memaklumi. Abdi negara seperti mu mana mungkin mempunyai cukup waktu hanya untuk wanita yang tak begitu penting ini. Lagi lagi aku harus sangat mengerti. Aku hanya kekasih dari seorang polisi yang sedang memperjuangkan negeri nya, bukan memperjuangkan wanita nya. Aku harus mengerti itu kan?
      Yah, aku tak kan protes apapun lagi. Waktu mu terbatas untuk tugas. Aku pun tak kan membatasi keinginan mu. Tak dipungkiri, aku hanya punya lengan yang tak bisa sampai memeluk mu, punya telinga yang tak bisa sampai mendengar tawa tangis mu, punya mata yang tak bisa sampai melihat senyum mu. Mungkin itu kesalahan yang kita buat dengan sengaja.
      Sejauh dari peristiwa perkenalan itu berlangsung hingga saat ini, kau masih menjadi penguasa perhatian ku. Lalu perhatian mu? Aaah aku selalu mempertanyakan itu, hal yang sudah jelas jawaban nya. Kau tak punya banyak waktu dan aku harus mengerti, yah lagi-lagi itu yang harus ku dengarkan dari tutur mu.
      Tau kah kau, aku hanya mengaharap kabar dari mu, mengaharap ucapan-ucapan manis walau hanya untuk pengantar tidur ku, sehari sekali saja! Cukup. Kadang aku ingin sekali menjadi pendengar keluh kesah atas penat nya hari-hari mu. Menjadi tempat pulang ketika lelah mu. Menjadi peneduh lara mu. Menjadi alasan senyuman ditiap hari mu.
      Selamat bertugas sayang! Abaikan semua permohonan ku, itu hanya akan menjadi penghambat karir mu. Aku menyayangi mu, juga sangat yakin kau pun mencintai ku. Semoga selalu dalam lindungan-Nya. Abdikan jiwa raga mu sepenuhnya untuk bumi kandung ini. Aku bangga memiliki mu. (Bripda Iqbal Ramdhani)