Seperti
hari-hari sebelum nya, aku masih tetap menjadi penggemar rahasia mu. Ketika itu
kau berdiri membelakangi ku dengan jarak beberapa meter didepan ku. Bukan
kendali ku, sesuatu yang aneh membujuk
ku untuk terus memandangi mu. Alasan nya, aku sendiri kurang begitu tau.
Beberapa saat aku melamuni keberadaan mu yang tak jauh dari tempat ku berdiri
waktu itu, kau memutar badan mu dan melihatku. Dengan lamunan yang masih saja
belum buyar, kau mendatangiku dengan senyuman khas mu. Aku masih mengira itu
adalah bagian dari lamunan ku. Hingga akhirnya aku tersadar bersama tepukan
tangan mu di pundak ku. Kau menyapa ku. Beberapa saat aku sempat berpikir dari
mana kau tau nama ku. Sudahlah, itu tak begitu penting.
Percakapan pertama kita semakin meninggalkan
rasa kagum ku terhadap mu. Dari situ, aku sedikit mengenalmu. Sedikit tau
tentang mu. Kau bercerita banyak waktu itu, sesekali kau selipkan candaan yang
semakin membuat ku begitu nyaman berada didekat mu. Sebelum nya bahkan tak
sampai berpikir bahwa aku akan mempunyai kesempatan untuk bisa sekedar bergurau
dengan mu seperti waktu itu. Walau aku
kurang begitu paham dengan bahan obrolan mu yang mengulik bagian-bagian sastra,
tapi aku berusaha semampu ku untuk mengimbangi topik pembicaraan mu itu. Sementara
kau bicara panjang lebar tentang sastra, aku hanya bisa menatap mu dengan
memikirkan apa lagi yang harus aku tanyakan kepada mu tentang sastra agar
percakapan kita tak begitu saja berakhir, karena aku masih sangat ingin
bercakap lebih lama dengan mu. Aku tak mungkin menanyakan tentang tugas-tugas
kuliah ku, itu terlalu konyol. Bagaimana tidak, kita berbeda jurusan. Kau pasti
takkan lebih paham tentang seluk beluk ekonomi yang akan ku tanyakan. Jadi
sebisa mungkin aku mempertahan kan pembicaraan tentang sastra itu.
Percakapan itu berakhir di jam yang
mengharuskan mu menemui dosen pembimbing skripsi. Aku masih belum percaya bahwa
aku baru saja berbicara panjang lebar dengan mu, walau sedikit pun aku tak
memahami apa yang baru saja kau bicarakan. Setidak nya aku senang bisa menatap
mu sedekat itu. Kau beranjak ke ruang dosen dan aku tetap berdiri ditempat
dengan hati kegirangan ku. Kau tau? Hal itu menjadi penantian ku selama ini.
Setelah perkenalan itu, kau rajin
menghubungi ku via telepon. Dengan perhatian-perhatian yang pernah ku inginkan
darimu. Dengan sapaan hangat ditiap pagi ku. Dan lain-lain darimu. Kemarin. kau
bercerita panjang lebar lagi, kali ini tentang proses skripsi mu. Aku hanya
bisa jadi pendengar dan sesekali menjadi penanya, itu saja. Aku sangat kalah
jauh bepengalaman nya dengan mu, maka dari itu aku sangat hati-hati dalam
pembicaraan ku. Kita baru kenal, tapi rasanya kau sangat mampu menjadi abang
yang menyenang kan buat ku. Walau sebenarnya aku menginginkan mu lebih dari
sekedar abang.