24.04.2015
Untuk mu, Pelaut Terhebat ku.
Sebagai wanita yang
sedang menanti, aku paham betul apa yang harus aku jaga selama kau tak berada
disisihku saat ini. Paham apa yang harus aku lakukan selama kau berada jauh
dari tempat ku berdiri saat ini. Menunggu mu kini menjadi rutinitas harian ku.
Entah alasan apa yang sedang aku pegang sampai aku tak mengenal kata bosan
untuk sekedar menunggu mu pulang. Kita sama-sama telah berkomitmen, bahwa
bagaimanapun, kapanpun, dimanapun tak akan jadi pengaruh atas apa yang pernah
kita janjikan. Aku yakin kau pun punya tanggung jawab atas janji kita.
Jika keadaan ini
mengharuskan ku untuk lebih bersabar, maka aku akan bersabar lebih dan lebih
lagi. Untuk mu, aku tak kan pernah menyalah gunakan kepercayaan mu. Aku tetap
disini, berdiri, menanti kehadiran sosok yang selama ini sengaja aku tunggu,
iyah, itu kamu, sayang.. Berbulan-bulan yang kita lalui dengan tidak berdekatan
menjadi sabar kita semakin tebal dan seolah sudah menter dengan hubungan jarak
jauh yang sedang kita jalani saat ini.
Tenang saja, aku
takkan menuntut dan melarang apapun yang menjadi pilihan mu. Aku akan mendukung
dengan keikhlasan ku. Aku hanya akan marah jika disana kau tak jaga kesehatan
mu, apalagi meninggalkan kewajiban mu sebagai seorang muslim. Aku bisa
memastikan bahwa aku takkan meminta ini itu yang bukan hak ku. Tapi aku berhak
melihat mu bahagia dengan apa yang telah kau pilih.
Aku akan tetap
menunggu. Menunggu kabar, menunggu pulang, menunggu janji, menunggu ijab, dan
bahagia bersama mu. Bahwa yang ku bilang aku selalu memantau hp untuk menunggu
kabar mu itu benar. Yang ku bilang aku selalu berdiri didepan pintu untuk
menunggu mu pulang itu benar. Yang aku bilang bahwa aku selalu percaya dan
tetap setia untuk menunggu janji mu itu benar. Yang aku bilang bahwa aku selalu
menyimpan satu nama untuk menunggu ijab mu itu juga benar.
Pulang lah dengan
membawa cerita tentang empat samudera yang katamu akan kau taklukkan itu.
Cerita kan nanti pada anak-anak kita agar mereka merasa beruntung mempunyai ayah
yang tangguh seperti mu. Dan aku, akan menceritakan pula bagaimana perjuangan
ku saat menunggu mu. Saat harus setiap hari melihat pintu menoleh kiri-kanan
berharap kepulangan mu. Saat harus
bersujud setiap malam agar kau selalu berada dalam lindungan Nya. Saat harus
selalu cemas setiap tak ku dapati kabar
mu sedetik saja.
Setiap aku
mendengar kabar bahwa kau akan berlayar keluar Indonesia, kau pasti tak
mengerti bagaimana cemas nya aku. Kita akan lebih sulit lagi berkomunikasi.
Tapi bagaimanapun itu, aku masih mempunyai kewajiban untuk menunggu mu, karena
aku tak mau mengingkari janji ku. Katamu, aku harus bersabar, kau jauh dariku
bukan berarti tak mencintai ku, tapi kau sedang mempersiapkan masa depan untuk
ku. Aku paham atas tugas mu, Justru aku beruntung mengenal lelaki seperti mu,
yang pekerja keras dan bertanggung jawab.
Siapa pun kau, aku
tetap mencintai mu.. Tak peduli profesi mu, keberadaan mu apalagi materi mu.
Justru aku merasa menjadi wanita yang tak biasa sejak aku mencintai mu. Aku
merasa menjadi wanita hebat dengan kekuatan dan kesabaran ku. Aku adalah olive
yang ada dalam penantian panjang. Menanti kepulangan popeye ku dengan penuh
ketulusan. Aku tak peduli dengan perkataan sampah mereka yang sengaja
mempengaruhi ku untuk mundur dari penantian ku. Karena aku paham, mencintai mu
adalah pilihan ku. Inilah perjuangan ku, dimana signal menjadi hal yang berharga buat ku, karena laut yang luas
seperti sedang menguji kesabaran ku . Aku ingin kau pulang dengan menceritakan
semua keluh-kesah mu selama kau mengapung berbulan-bulan dihalaman samudera
yang menjadi rumah kedua mu. Aku masih menantimu dengan harapan terbesar ku.
Didepan pintu ini aku masih selalu
berangan bahwa kau akan berdiri didepan ku, memelukku dan berkata "aku
pulang sayang".