Sabtu, 25 April 2015

Tetap Menanti



24.04.2015
Untuk mu, Pelaut Terhebat ku.
        Sebagai wanita yang sedang menanti, aku paham betul apa yang harus aku jaga selama kau tak berada disisihku saat ini. Paham apa yang harus aku lakukan selama kau berada jauh dari tempat ku berdiri saat ini. Menunggu mu kini menjadi rutinitas harian ku. Entah alasan apa yang sedang aku pegang sampai aku tak mengenal kata bosan untuk sekedar menunggu mu pulang. Kita sama-sama telah berkomitmen, bahwa bagaimanapun, kapanpun, dimanapun tak akan jadi pengaruh atas apa yang pernah kita janjikan. Aku yakin kau pun punya tanggung jawab atas janji kita.
        Jika keadaan ini mengharuskan ku untuk lebih bersabar, maka aku akan bersabar lebih dan lebih lagi. Untuk mu, aku tak kan pernah menyalah gunakan kepercayaan mu. Aku tetap disini, berdiri, menanti kehadiran sosok yang selama ini sengaja aku tunggu, iyah, itu kamu, sayang.. Berbulan-bulan yang kita lalui dengan tidak berdekatan menjadi sabar kita semakin tebal dan seolah sudah menter dengan hubungan jarak jauh yang sedang kita jalani saat ini.
        Tenang saja, aku takkan menuntut dan melarang apapun yang menjadi pilihan mu. Aku akan mendukung dengan keikhlasan ku. Aku hanya akan marah jika disana kau tak jaga kesehatan mu, apalagi meninggalkan kewajiban mu sebagai seorang muslim. Aku bisa memastikan bahwa aku takkan meminta ini itu yang bukan hak ku. Tapi aku berhak melihat mu bahagia dengan apa yang telah kau pilih.
        Aku akan tetap menunggu. Menunggu kabar, menunggu pulang, menunggu janji, menunggu ijab, dan bahagia bersama mu. Bahwa yang ku bilang aku selalu memantau hp untuk menunggu kabar mu itu benar. Yang ku bilang aku selalu berdiri didepan pintu untuk menunggu mu pulang itu benar. Yang aku bilang bahwa aku selalu percaya dan tetap setia untuk menunggu janji mu itu benar. Yang aku bilang bahwa aku selalu menyimpan satu nama untuk menunggu ijab mu itu juga benar.
        Pulang lah dengan membawa cerita tentang empat samudera yang katamu akan kau taklukkan itu. Cerita kan nanti pada anak-anak kita agar mereka merasa beruntung mempunyai ayah yang tangguh seperti mu. Dan aku, akan menceritakan pula bagaimana perjuangan ku saat menunggu mu. Saat harus setiap hari melihat pintu menoleh kiri-kanan berharap kepulangan  mu. Saat harus bersujud setiap malam agar kau selalu berada dalam lindungan Nya. Saat harus selalu  cemas setiap tak ku dapati kabar mu sedetik saja.
        Setiap aku mendengar kabar bahwa kau akan berlayar keluar Indonesia, kau pasti tak mengerti bagaimana cemas nya aku. Kita akan lebih sulit lagi berkomunikasi. Tapi bagaimanapun itu, aku masih mempunyai kewajiban untuk menunggu mu, karena aku tak mau mengingkari janji ku. Katamu, aku harus bersabar, kau jauh dariku bukan berarti tak mencintai ku, tapi kau sedang mempersiapkan masa depan untuk ku. Aku paham atas tugas mu, Justru aku beruntung mengenal lelaki seperti mu, yang pekerja keras dan bertanggung jawab.
        Siapa pun kau, aku tetap mencintai mu.. Tak peduli profesi mu, keberadaan mu apalagi materi mu. Justru aku merasa menjadi wanita yang tak biasa sejak aku mencintai mu. Aku merasa menjadi wanita hebat dengan kekuatan dan kesabaran ku. Aku adalah olive yang ada dalam penantian panjang. Menanti kepulangan popeye ku dengan penuh ketulusan. Aku tak peduli dengan perkataan sampah mereka yang sengaja mempengaruhi ku untuk mundur dari penantian ku. Karena aku paham, mencintai mu adalah pilihan ku. Inilah perjuangan ku, dimana signal menjadi hal yang  berharga buat ku, karena laut yang luas seperti sedang menguji kesabaran ku . Aku ingin kau pulang dengan menceritakan semua keluh-kesah mu selama kau mengapung berbulan-bulan dihalaman samudera yang menjadi rumah kedua mu. Aku masih menantimu dengan harapan terbesar ku. Didepan pintu ini aku masih  selalu berangan bahwa kau akan berdiri didepan ku, memelukku dan berkata "aku pulang sayang".