Kenapa baru datang?
Apa lagi yang membuat mu datang?
Adakah hal yang belum terselesaikan?
Aku telah
kehilangan mu beberapa waktu yang lalu. Bukan kau saja yang berjuang, disini
aku juga berjuang untuk tak lagi mengingat apapun tentang kita. Jangan kira kau
saja yang merasakan perih, bahkan aku sendiri sampai tak ingin masuk kedalam
masa itu lagi.
Jangan terlalu
membuatku seolah-olah aku sebagai tersangka dan kamu sebagai korban. Bukan juga
aku membalas perlakuan mu terhadap ku. Tapi sebagai perempuan aku tak mengerti
apa yang harus aku lakukan ketika aku hanya mengagumi mu secara sepihak.
Aku tak
menyangkal bahwa aku pernah mengagumi mu terlalu banyak sehingga aku merasa
menjadi sangat lemah atas perasaan ku sendiri.
Aku pernah menyayangimu entah sebagai apa, masih terlalu muda jika ku
bilang perasaan itu sebagai cinta.
Kau mungkin tak
kan mengerti bahwa waktu ku mengagumi mu juga berlangsung dalam waktu yang
cukup lama. Hari ku, minggu ku, bulan ku, bahkan saat tahun berganti pun aku masih mengagumi mu, masih entah
sebagai apa.
Butuh waktu yang
lama pula untu memulihkan perasaan itu, menegembalikan nya ke masa ketika aku
belum mengenalmu. Jangan kira aku tak berjuang seperti mu. Karna nyatanya aku
lebih dulu berjuang untuk selalu
baik-baik saja di depan mu.
Tapi setelah
semuanya pulih, kau seenaknya datang. Kau mulai mendekati ku. Dan dengan bodoh
nya aku justru menyambut mu ke dalam masa yang seharusnya tak perlu ada. Aku mulai mengagumi mu kembali. Entah karena
kepolosan ku saat itu atau karena rasa kege-eran , aku sangat tak mengerti
bahwa aku sedang dipermainkan.
Bahkan sebenarnya
aku tau kau masih menjalin hubungan dengan kekasih mu. Tapi entahlah, aku tak
peduli dengan itu. Yang terjelas bahwa aku senang saat bersama mu. Aku bahagia.
Tapi kedekatan
itu tak berlangsung lama. Kau mematahkan hati
ku lagi dan lagi. Walau memang status kita tak begitu jelas. Dengan
seenak nya lagi kau pergi tanpa merasa telah
meninggalkan sesuatu apapun. Dan
lagi-lagi aku harus beerjuang membuang semua nya… semunya tentang mu.
Aku pikir semua
nya telah berakhir. Tapi aku salah. Entah berapa tahun kemudin, kamu datang
kembali. Tapi kau datang tanpa
penyesalan apapun. Dan bodoh nya lagi, aku menyambut mu untuk kesekian kali.
Kita menjalin hubungan lagi. Menjalin hubungan yang kebih baik dari sebelum
nya, menurutku. Hubungan yang bukan hanya sekedar tanpa status, tetapi sebagai
pasangan kekasih yang entah saling sayang atau hanya sepihak lagi. Yang jelas,
perasaan ku tak sedalam sebelum nya.
Dan lagi-lagi
kita harus berakhir karena kesalahan ku. Kesalahan yang katamu telah membuat mu
sakit sesakit-sakit nya. Dan di waktu yang TELAT itu lah aku baru saja sadar
bahwa kau sebenarnya juga menyayangi ku.
Tetapi tetap saja telat bagi ku.Setelah nya, kau pergi lagi, kau hilang lagi..
iyah, lagi, lagi, lagi.. entah berapa kali…
Tiga tahun kata
mu, kau berjuang. Kemudian kau datang
lagi. Kau ceritakan semua keluh kesah mu, seolah-olah kau sedang menyidang ku.
Lagi-lagi kau buat ku seperti tersangka. Aku tak menampik bahwa semuanya memang
salah ku. Tapi perlu kau ingat, bahwa aku telah lebih dulu berjuang untuk
sembuh dari luka karena mu.
Jadi sudah berapa
tahun? Dari sejak aku mengagumi mu secara sepihak, sejak umur ku belum cukup
untuk merasakan perasaan yang harusnya tak dirasakan oleh gadis seusia ku waktu
itu, hingga sekarang saat semua nya sudah terlanjur berubah. Kamu hanya datang
pergi datang pergi seenak semau mu.
Hari ini kau
datang, entah besok akan seperti apa lagi. Pergi lagi? Atau tetap disini
bertahan, menjaga ku sebagai sahabat mu.
Hari ini kau bilang kau masih sama
seperti tiga tahun yang lalu. Bahkan katamu, kau ingin mengulangi nya kembali.
Tapi hari ini aku berhak tak percaya
lagi pada mu. Beberapa alasan kuat yang membuat ku ragu. Aku bukan lagi
gadis bodoh yang beberapa tahun yang lalu
menyisakan waktu nya hanya untuk menulis nama mu di setiap halaman buku
diary nya.
Bukan nya aku
membenci mu. Tapi kau rasa, masa itu sudah cukup untuk ditutup dan tidak untuk
dibuka lagi untuk kesekian kali nya. Bisakah kita perbaiki hubungan kita dengan
cara tak melukai satu sama lain, walau hanya sebagai sahabat.