Rabu, 15 Juni 2016

Bertemu Lagi



Bertemu lagi, tidak sengaja kita bertemu lagi. Kali ini karena tugas yang mengharuskan kita bertemu. Kita berada diruang yang sama lagi. Tetap dengan mulut yang sama-sama membungkam, pandangan yang sama-sama tak mau menatap satu sama lain, dan kaki yang enggan melangkah untuk berdekatan.
Kita masih saja berusaha terus menghindar. Berusaha mengikari kenyataan bahwa sebenarnya kita saling kenal. Hanya saja keadaan yang entah keinginan kita sendiri atau malah mengharuskan kita agar tak saling menyapa dan seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu antara kita.
Sebenarnya kita sedikit keras kepala dengan keinginan kita yang justru telah menyiksa hati kita sendiri.. uups, aku rasa bukan kita, tapi aku saja. Aku saja yang merasa tersiksa dengan keadaan kita saat ini. Aku saja yang merasa ada sesuatu yang hilang. Aku saja yang merasa tidak nyaman dengan sikap kita. Karena nyatanya kamu tetap baik-baik saja.
Hari ini, entah harus senang atau bahkan sebalik nya. Aku bertemu dengan mu untuk kesekian kali nya, jelas saja aku senang. Aku bertemu dengan mu lalu kau begitu saja mengabaikan ku, jelas saja membuat ku sedih. Lalu aku harus senang atau sedih?
Mengapa kita begitu naif? Bahkan kau terburu-buru meninggalkan ruangan ketika urusan mu dengan dosen sudah selesai. Kau membenci ku? Tak menyukai ketika bertemu dengan ku? Mengapa harus sampai menghindar sebegitunya? Aku masih saja tak mengerti.

Selasa, 14 Juni 2016

Apakah Aku Sedang Bercanda?

Bercanda, lagi-lagi hanya bercanda.. . 

Aku rasa aku masih bercanda, seperti beberapa waktu yang lalu aku hanya sedang bercanda. Aku hampir tak mau percaya bahwa perasaan aneh itu muncul dengan tak permisi padaku, padahal aku sama sekali tak menginginkan nya. Tak tau jelas juga mengapa bisa sampai sejauh ini. Tolonglah, apakah saat ini aku benar-benar hanya sedang bercanda? 

Lelaki yang seharusnya tak ku beri perhatian lebih, justru menjadi perhatian ku saat aku sedang berada di kelas. Lelaki yang pada semester awal benar-benar tak ku sukai. Semester pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima, dan akhirnya aku jatuh pada semester keenam ini. Entah ini hanya tertarik atau apa semacam nya. Oh tuhan, aku rasa aku sedang bercanda... 

Aku bahkan pernah membenci nya, tapi sekarang mengapa? Mengapa harus ada perasaan yang begitu tak masuk akal ini. Aku hanya yakin bahwa aku sedang bercanda... oh Tuhan.. apa yang telah terjadi. Dengan begitu cepat perasaan itu hadir, dan berbalik seketika. 

 Andai aku tak menemui mu saat itu, andai aku tak bersama mu ketika itu, andai bukan aku yang menemani mu waktu itu. Aku rasa ini sangat rumit. Sejak saat itu, aku merasa kau sengaja memberi kenyamanan terhadap ku. Dan berakhir seperti ini, berakhir dengan keraguan atas diriku sendiri. Aku masih tak percaya dengan diriku. 

 Pertama, kau mengajak ku kerumah mu. Kedua, kau mengajak ku menjenguk teman mu. Ketiga, kau mengajak ku merayakan hari ulang tahun mu. Aku harap hanya itu, dan tak lagi ada pertemuan keempat, kelima atau seterusnya. 

 Jujur saja, aku masih berada dalam dilema ku sendiri. Aku mohon jangan lagi membuatku tertarik pada mu, kagum pada mu, suka pada mu, atau bahkan jatuh hati pada mu. Jangan lagi memperlihatkan kemampuan mu yang selalu membuat aku nyaman saat berada disamping mu. Aku semakin takut jika yang terjadi adalah aku merasa tak ingin kau jauh. Aku takut jika yang terjadi adalah aku menyayangi mu. 

Belum saja semua itu terjadi, aku dan kau seperti sedang sama-sama menghindar. Seolah-olah kau tau perasaan ku, dan aku tau perasaan mu. Terasa canggung ketika bertemu. Terasa tersiksa ketika berhadapan dengan mu. 

 Dan sore ini, kau berhasil menyinggung perasaan ku. Perasaan yang harusnya tak perlu kau singgung karna ada kamu di dalam nya. Akhirnya membuat ku sadar, bahwa aku sudah terlalu jauh dan semakin tak tau diri. 

Oh Tuhan... mengapa Kau berikan kesempatan kepada kami untuk saling berdekatan waktu itu? Apakah ini termasuk bagian dari skenario kehidupan yang sengaja Kau atur, Tuhan? Lalu, patutkah aku memelihara perasaan ini, atau bahkan harus segera melumpuhkan nya?

Senin, 13 Juni 2016

Percaya Dan Yakin



Sekitar setahun yang lalu, aku pernah merasakan gelisah dan resah yang tak habis dalam beberapa bulan. Aku merasa sangat sulit. Orang-orang disekelilingku tiba-tiba memberi perhatian yang tak biasa seakan-akan akan terjadi sesuatu pada diriku. Aku bertanya-tanya “mengapa?” pada semua orang, namun yang ku temui hanya ucapan “sabar dan berdoa lah” hanya itu. Aku semakin bingung dan hampir putus asa.
Tiga bulan lamanya aku harus mengkonsumsi obat yang diresepkan oleh dokter ku. Aku tak boleh makan ini, tak boleh makan itu. Aku masih saja tak paham dengan apa yang terjadi, hingga ku turuti semua perkataan mereka. Orang tua ku harus berjuang untuk pengobatan yang tak sebentar itu.
Disamping aku bertanya-tanya mengapa, kadang keinginan untuk menyerah itu datang. Namun nyatanya keinginan itu kalah dengan keinginan ku untuk tetap bersama mereka. Aku berhak bersama dan bahagia dengan mereka. Alasan mengapa aku tak pernah menyerah adalah karena mereka, orang tua ku.
Walau banyak sekali pikiran negatif yang telah dipengaruhi orang-orang luar yang sok tau tentang diriku, walau banyak sekali asumsi tentang apa yang telah terjadi pada dririku, walau banyak sekali orang-orang yang secara tak langsung telah melumpuhkan semangat ku, tapi aku yakin dan berhasil melawan semua itu. Karena apa? Semua karena mereka, orang tua ku.
Tak ada penyakit yang tak bisa disembuhkan. Aku ingat tentang perkataan dosen ku bahwa penyakit berasal dari pikiran kita sendiri. Aku hanya perlu tenang, bahagia, dan positif maka penyakit itu dengan sendiri nya akan mati bersama-sama dengan kesedihan. Dan nyatanya, aku masih baik-baik saja hingga sekarang.
Aku percaya dan yakin bahwa Allah telah menyediakan berjuta-juta cara untuk menghilangkan berbagai penyakit yang bahkan dokter pun tak bisa menemukan nya. Ada berbagai program dalam tubuh kita yang dijalankan langsung oleh Allah tanpa kita menyadari nya. Maka dari itu, patutlah kita berkhusnudzon pada apa yang telah terjadi pada diri kita sendiri, walaupun itu sakit, berat dan melelahkan.