Minggu, 14 Januari 2018

Berakhir

Berakhir.
Entah dari mana cerita ini berawal, aku hampir tak ingat peristiwa itu. Yang menjadi ingatan dalam benak ku sampai sekarang hanya tentang perpisahan kita. Perpisahan yang menyisakan banyak luka dan banyak pertanyaan pula.
Sampai sekarang masih banyak pertanyaan yang belum sempat terjawab oleh mu. Mengapa perkenalan itu terjadi? Mengapa kau memberi banyak harapan? Mengapa kau pula yang mematahkan harapan itu? Mengapa? Mengapa? Dan banyak lagi mengapa mengapa lain yang masih berada dibenak ku.
Teka-teki yang tak bisa ku selesaikan sendiri, karena nyatanya aku tak banyak mengenali mu, tak mengerti banyak tentang jalan fikiran mu, apalagi tentang perasaan mu. Aku sama sekali tak bisa menebak apapun yang sedang kau pikirkan, aku rasa aku sudah tertipu dengan sikap mu itu. Sikap yang selalu berusaha meyakinkan ku akan masa depan, kebahagiaan, kesederhanaan dan kesetiaan.
Berakhir.
Sudah berakhir tanpa cerita panjang.
Tak seperti cerita-cerita lainya yang berlangsung dengan banyak episode, maka cerita kita hanya berhenti di tengah jalan. Kisah yang awalnya aku banggakan didepan teman-teman ternyata bertemu dengan akhirnya juga. Berakhir dengan malu ku pada teman-teman pula. Bagaimana tidak, kau bilang kau berencana akan mengikatku dalam waktu dekat, tapi ternyata hanya kekecewaan yang sedang kau rencanakan. Apa kau sadar bukan hanya aku yang sedang kau kecewakan, tapi juga orang tua ku.
Bukankah aku pernah hampir sampai mengakhiri hubungan kita karena sesuatu yang membuatku tak nyaman waktu itu. Tapi kau terus meyakinkan ku dan bilang kau akan membuktikan semuanya dengan membawa masa depan yang bahagia. Dan ternyata masa depan yang seperti apa? Bahagia dari mana? Omong kosong!
Sampai sekarang aku tak mengerti dengan keputusan mu yang tiba-tiba menghilang dengan meninggalkan beribu pertanyaan ini. Aku masih juga bertanya mengapa, salah ku dimana. Kadang aku lebih memilih menyalahkan diriku sendiri agar tak terlalu dalam penyesalan ku terhadap mu. Mungkin saja aku tak pantas menyanding pria hebat seperti mu.
Aku hanya sedang tak menyangka, sedang tak percaya. Aku kira kau pria hebat, religious, dewasa dan bertanggung jawab. Tapi perkiraan ku ternyata salah, salah besar! Kau bukan pria seperti itu. Kau bahkan tak patut untuk dipercaya. Maka kelak kecewa ku ini akan menjadi pengingat mu saat kau kecewa dengan keadaan yang lebih dari ini. Karena saat saat itu pasti akan datang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar