Kamis, 20 Oktober 2016

Rabu, Di Kelas Yang Panas



Tulisan ini adalah hasil dari rasa cemburu nya salah satu murid saya di XI TKJ 3, Imelia Ade Fitri.. Salah saya memang hanya menulis tentang XI TKJ 4 saja, padahal saya mengajar di tiga kelas; XI TKJ 3. XI TKJ 4 dan XI MM. Untung nya XI MM tak ada yang iri, sehingga saya tak perlu repot-repot menulis tentang XI MM. hehehe
Rabu, 27 Juli 2016. Pertama kali saya masuk di XI TKJ 3. Merasa asing dan sangat gugup berdiri didepan mereka. Wajah-wajah baru yang belum pernah saya lihat sebelum nya. Tatapan yang hanya tertuju pada saya, membuat saya semakin grogi saja. Jam pelajaran terakhir, kondisi kelas yang panas, perasaan gugup membuat tubuh saya semakin basah, bercucuran keringat. Tetapi untung saja saya bisa melewati semua itu di hari pertama.
Mungkin kesan pertama mengenal saya bagi mereka adalah kesalahan. Banyak sekali omongan tentang saya setelah pertemuan pertama. Pertemuan pertama memang saya setting seperti itu. Pertemuan pertama harus terlihat benar-benar tegas di depan mereka, harus menjaga wibawa, dan mungkin harus sedikit keras, agar kedepan nya mereka tetap menghormati saya. Tetapi ternyata penilaian mereka terhadap saya malah sebaliknya, tak seperti apa yang saya maksudkan. Dari pertemuan pertama, kesan dari mereka adalah Bu Novel jahat, Bu Novel ga asyik, Bu Novel ga bisa bercanda, Bu Novel sok, dan blablabla.. Tapi saya bisa memaklumi, justru itu lah yang membuat saya gemas dengan mereka.
Pertemuan selanjutnya saya tak sekaku waktu pertemuan pertama, saya mencoba mengerti apa mau mereka. Menjadi guru yang sabar dan ramah. Beberapa pertemuan berlangsung dengan kesabaran saya. Hingga entah pada pertemuan keberapa mereka sempat menguji kesabaran saya sehingga membuat saya marah dan kecewa. Hanya karena saya tugaskan untuk membentuk kelompok dan berdiskusi saja mereka mengomel semau-mau nya, meremehkan saya dan semakin melunjak saja.
Tapi amarah saya hanya sebatas hari itu saja. Dan tak kan menjadikan alasan saya untuk menilai buruk tentang XI TKJ 3. Pertemuan selanjutnya masih berjalan seperti biasa nya. Tetap dengan keadaan kelas yang panas dan ramai tetapi menyenangkan. Tetapi entah, saya masih merasa asing berada di kelas XI TKJ 3. Setelah beberapa pertemuan, tetapi saya masih juga tak hafal dengan nama-nama mereka.
Namun, dua minggu sebelum hari terakhir saya mengajar, saya justru merasa semakin dekat dengan mereka dan semakin nyaman  berada di kelas mereka. Juga sedikit lebih mengenal mereka. Dan lebih buruk nya, saya justru malah lebih dekat dan semakin dekat ketika saya harus berpisah dengan mereka. Bahkan sampai hari ini (15102016).
Dadang Hermawan, ketua kelas yang terlihat lebih dewasa dari pada teman-teman nya. Yang hingga saat ini selalu menyapa dan curhat melalui via BBm. Dadang Hermawan, yang katanya akan terus berusaha mempertahankan, memperjuangkan dan berkorban untuk pacar nya yang berada di kelas XI TKJ 4, haha bagaimana tak geli mendengar nya, anak seusia dia sudah mengerti arti berjuang segala, berjuang untuk seorang cewe pula. Tapi saya salut dengan dia, di kesibukan dia sebagai seorang siswa dia masih bisa membantu orang tua nya bekerja, harus berpanas-panasan berada di sawah, dan saya bangga.
Venancia Tri Julia, gadis cerewet yang dipunyai kelas XI TKJ3, selalu ngomel dan suka nawar tugas yang saya berikan. Bahkan pernah ngambek pada saya karna saya paksa agar mengumpulkan tugas tepat waktu. Venancia, awalnya saya pikir dia tipe siswa yang suka membantah.  Tapi ternyata, di mata saya dia tetap menjadi gadis yang menyenangkan. Sama seperti ketua kelas, Venancia adalah salah satu siswa saya yang selalu menyapa saya melalui via BBm, bahkan setiap hari terhitung ketika saya meninggalkan sekolah sampai hari ini, menjadi teman baru saya, menjadi menghilang rasa galau saya. Bagaimana tidak, setiap pagi handphone saya selalu bordering, berisi “Selamat pagi bu guru” dari Venancia. Tak hanya pagi, malam pun dia selalu menyempatkan untuk menyapa saya. Selalu bercerita tentang apa yang terjadi pada hari-hari nya.
Elisyeva Felicia Agustin, salah satu siswa saya yang tak berjilbab, karena memang dia non-muslim. Dari awal saya menyukai gadis ini. Dari ketika dia bercerita tentang rekan saya (Bu Ani) di UKS. Entah penilaian saya ini terlalu terburu-buru atau memang tepat, saya pikir Elisyeva adalah siswa saya yang benar-benar menyenangkan, selalu tersenyum dan tertawa dengan tulus, selalu respect dengan teman-teman nya, dan selalu galau karena mantan nya yang berada sekelas dengan dia.
Mukti Thorikul Sidiq, si resek yang selalu membully saya. Murid saya yang suka nge-game. Dia pendiam tapi menyenangkan dan kreatif menurut saya. Ia sedang berbunga-bunga saat ini. Katanya sedang jatuh cinta dengan teman sekelas nya sendiri.
Dita Yuni Lestari dan Jefri Permana Sasongko, pasangan yang selalu membuat saya baper. Bagaimana tidak,  saat dikelas pun,  saat saya menerangkan pelajaran pun, mereka dengan asyik nya malah ngobrol sendiri. Tapi mereka lucu, the best couple menurut saya. Dita, gadis manis yang awal nya saya kira pendiam, tapi bawel juga ternyata. Dita, yang pernah meminta saya agar tetap di sekolah dan membuat sedih saja. Dan Jefri terlihat bandel tapi sebenarnya sedang mencari perhatian. Dia tetap manis di beberapa peristiwa.
Ainun Najib, murid saya yang awalnya begitu perhatian dengan saya. Ia selalu kepo tentang privacy saya, bertanya tentang hal-hal yang tak perlu dipertanyakan. Tapi yang bikin saya gemas, tak jarang pertanyaan itu semata-mata untuk menggombal saja. Bikin saya tertawa ga kontrol.
Imelia Ade Fitri, si cantik yang selalu menjadi perhatian saya, yang kemarin iri dengan XI TKJ 4, sehingga saya menulis tulisan ini. Dari awal, saya menyukai bentuk mata dan tatapan mata nya.  
Mardiyah, siswi yang pertama kali saya kenal ketika berada di kelas XI TKJ 3. Yang setiap kali saya menerangkan dia malah asyik menggambar. Tapi dia cukup antusias untuk bertanya tentang apa yang saya sampaikan.
Fani Febry Ayuningtyas, siswi saya yang terlihat begitu kalem, manis, pendiam dan sopan . Fedro Firdaus dan Ega Febrianti, pasangan sahabat yang kemana-mana selalu berdua. Fedro, siswa saya yang pertama kali mengomentari cara mengajar saya, dia bilang suara saya terlalu terlalu kecil.
Dan sayang nya saya tidak bisa menyebutkan satu persatu nama siswa saya yang berada di kelas XI TKJ 3. Yang terjelas bahwa mereka semua terkesan bagi saya. Entah penilaian saya tentang mereka benar atau tidak yang jelas mereka tetap menjadi kesayangan saya.
Terimakasih XI TKJ 3, untuk semua perhatian selama saya mengajar. Terimakasih selalu melukis senyum ketika berada di kelas kalian. Terimakasih telah menghormati dan menghargai saya walau saya hanya guru praktikan. Dan maaf untuk semua kesalahan saya. Tak ada yang bisa saya beri selain secuil pengetahuan yang saya miliki.
Tetap semangat anak-anak ku.. Belajarlah tentang apapun yang belum kalian ketahui, agar menjadi pribadi yang cerdas dalam segala hal.  Hargai apapun yang telah kalian miliki. Semoga sukses anak-anak ku, semoga tercapai apapun yang kalian inginkan…
Saya akan selalu merindukan kalian…








Kamis, 06 Oktober 2016

Sekolah Yang Membuat Saya Bahagia



SMKN Gudo Jombang, tempat praktik mengajar saya selama dua setengah bulan. Tempat yang mengenalkan saya dengan teman-teman baru yang asyik, wajah-wajah baru yang sebelumnya tak pernah saya kenal, dan lingkungan baru yang mengajarkan saya tentang banyak hal.
Bertemu dengan teman-teman baru dalam satu kelompok yang kompak. Walau pada awalnya sedikit canggung karena ketua kelompok saya yang juga pernah bertukar kasih dengan saya di masa lalu. Tapi hal itu tak pantas kami jadikan alasan untuk saling berjauhan.
Dua setengah bulan, kami bersama, ditempat yang sama, berbagi suka duka bersama.. Banyak hal yang kita lalui ketika bersama. Kebersamaan yang hangat hingga perselisihan yang sama sekali membuat saya tak nyaman.
Berawal dari kebersamaan yang mengajarkan kami agar saling memeluk satu sama lain. Agar senantiasa melengkapi kekurangan dan rela berkorban satu sama lain. Namun nyatanya, entahlah, mungkin karna kami masih dalam tahap perkenalan, belum memahami sifat dan karakter masing-masing,  sehingga belum pantas disebut sebagai sahabat yang hangat.
Perselisihan demi perselisihan kami alami. Hanya beberapa dari kami yang berselisih dan akhirnya semua ikut terlibat. Tak lain, tak bukan, perselisihan itu hanya karena kesalah pahaman. Sebab yang menurut saya sangat kekanak-kanakan. Sebab yang seharusnya tak menjadikan kami seperti orang asing.
Mungkin inilah yang namanya kelompok. Sangat sulit menyatukan karakter yang berbeda, visi-misi yang berbeda, dan latar belakang yang berbeda. Saya bisa memaklumi. Tetapi yang saya kecewakan adalah ketika ketua kelompok tak bisa menyatukan kami kembali, dia malah memihak salah satu dari kami. Kami seperti membentuk kubu dalam kelompok. Dan inilah yang membuat saya sama sekali tak nyaman.
Hanya dua minggu saja kami berada dalam kesalahpahaman yang membuat kami saling menjauhi. Dan selanjutnya semua berjalan seperti biasa nya. Kebersamaan lagi yang kami bina. Saling mengerti dan memaafkan, itulah kunci yang membuatkan kami berbaikan kembali. Dan saya sangat bangga.
SMKN Gudo Jombang, disana saya mengenal bapak ibu guru yang giat dalam melaksanakan tugas nya. Bapak ibu guru yang sangat ramah dengan kami. Walau memang ada beberapa guru yang seperti nya tak suka dengan kehadiran kami, tapi itu tak membuat kami menyerah. Saya bersyukur, saya dibimbing oleh ibu guru yang sangat baik menurut saya. Ibu guru yang sangat percaya pada saya walau baru saja mengenal saya. Ibu guru yang ramah dan menyenangkan.
Disana pula, saya mengenal anak-anak yang manis walau sedikit bandel, tetapi mereka tetap pada batasan nya. Walau saya hanya ditugaskan untuk mengajar kelas XI, tetapi semua nya terkesan bagi saya.
Kelas X, anak-anak yang baru memulai kedewasaan nya. Sikap dan sifat yang masih teradaptasi dari masa SMP nya. Sedikit tak bisa dinasehati. Dan berlaku semau-mau nya tanpa memperhatikan peraturan sekolah. Sikap yang masih kurang menghormati guru nya. Tetapi saya memaklumi, mungkin mereka hanya butuh waktu untuk dewasa, butuh waktu untuk patut di sebut siswa SMA.
Kelas XI, anak-anak didik saya yang menurut saya satu-satu nya tingkatan yang bisa dipegang, yang bisa dinasehati, dan yang bisa diatur dengan baik. Banyak sekali kesan yang tertinggal dari mereka. XI TKJ 3 yang menurut saya suka mengeluh karena tugas dari saya. XI TKJ 4 yang menurut saya kelas pasar karena suka nawar dan ramai. Dan XI MM yang tetap anteng-anteng saja. Mereka yang tak henti-hentinya menorehkan senyum di wajah  saya. Dari mulai berperilaku konyol yang membuat saya tertawa lepas hingga berperilaku tak pantas yang membuat saya marah. Tetapi saya sangat bangga dengan mereka. Bagaimana pun saya saat dikelas, mereka masih mengetahui batas mereka sebagai siswa saya. Tetap menghormati dan menghargai saya.
Dan kelas XII,  kelas yang dihuni oleh siswa-siswi yang sudah merasa berkuasa. Banyak sekali kesan yang membuat saya jengkel ketika berhadapan dengan mereka. Rasa hormat kepada orang baru seperti kami malah berkurang. Tak ada beda dengan kelas X yang tak bisa di nasehati. Tetapi tetap ada beberapa siswa-siswi dari kelas XII yang tetap menghormati kami, walau kami hanya guru pengganti yang usia nya tak jauh beda dengan mereka. Tetapi seharusnya saya lebih mendekati mereka agar saya tak menilai sebelah mata tentang mereka. Saya yakin, mereka tak seburuk apa yang saya nilai.
Lingkungan baru yang saya tempati itu adalah tempat formal yang memilki peraturan yang harus ditaati. Peraturan yang ditegakkan agar tercipta kedisiplinan. Tetapi ada satu peraturan yang membuat saya tak setuju, yaitu jam istrihat yang kurang tepat. Karena peraturan itu, sehingga membuat saya menjamak shalat dzuhur setiap hari. Saya tau ini tak benar, tetapi inilah yang bisa saya lakukan walau dengan terpaksa. Tetapi diluar konteks itu, secara keseluruhan SMKN Gudo adalah tempat terbaik saya, tempat menyenangkan bagi saya.
Seminggu sudah saya meninggalkan tempat itu. Dan saya masih sering memimpikan anak-anak didik saya ditegah tidur saya. Saya masih sering memikirkan bagaimana caranya agar saya bisa kembali. Kembali bersama teman-teman saya, kembali bersama siswa-siswi saya, kembali di sekolah yang membuat saya bahagia.
Tak hanya siswa-siswi saya yang saya rindukan. Tetapi juga teman-teman saya. Walau kami memang kembali ke kampus kami, tetapi kami berada di gedung yang berbeda, berada di waktu kuliah yang berbeda. Sehingga mungkin kami tetap tak bisa bertemu seintens waktu kami berada di sekolah.
Terimaksih semuanya, terimakasih sudah mau mengenal saya. Menerima segala keterbatasan saya. Semuanya akan terkenang bagi saya. Teman-teman, guru-guru dan siswa-siswi, terimaksih untuk semuanya…