SMKN Gudo Jombang, tempat praktik mengajar saya selama dua
setengah bulan. Tempat yang mengenalkan saya dengan teman-teman baru yang
asyik, wajah-wajah baru yang sebelumnya tak pernah saya kenal, dan lingkungan
baru yang mengajarkan saya tentang banyak hal.
Bertemu dengan teman-teman baru dalam satu kelompok yang kompak.
Walau pada awalnya sedikit canggung karena ketua kelompok saya yang juga pernah
bertukar kasih dengan saya di masa lalu. Tapi hal itu tak pantas kami jadikan
alasan untuk saling berjauhan.
Dua setengah bulan, kami bersama, ditempat yang sama, berbagi
suka duka bersama.. Banyak hal yang kita lalui ketika bersama. Kebersamaan yang
hangat hingga perselisihan yang sama sekali membuat saya tak nyaman.
Berawal dari kebersamaan yang mengajarkan kami agar saling
memeluk satu sama lain. Agar senantiasa melengkapi kekurangan dan rela
berkorban satu sama lain. Namun nyatanya, entahlah, mungkin karna kami masih
dalam tahap perkenalan, belum memahami sifat dan karakter masing-masing, sehingga belum pantas disebut sebagai sahabat
yang hangat.
Perselisihan demi perselisihan kami alami. Hanya beberapa dari
kami yang berselisih dan akhirnya semua ikut terlibat. Tak lain, tak bukan,
perselisihan itu hanya karena kesalah pahaman. Sebab yang menurut saya sangat
kekanak-kanakan. Sebab yang seharusnya tak menjadikan kami seperti orang asing.
Mungkin inilah yang namanya kelompok. Sangat sulit menyatukan
karakter yang berbeda, visi-misi yang berbeda, dan latar belakang yang berbeda.
Saya bisa memaklumi. Tetapi yang saya kecewakan adalah ketika ketua kelompok
tak bisa menyatukan kami kembali, dia malah memihak salah satu dari kami. Kami
seperti membentuk kubu dalam kelompok. Dan inilah yang membuat saya sama sekali
tak nyaman.
Hanya dua minggu saja kami berada dalam kesalahpahaman yang
membuat kami saling menjauhi. Dan selanjutnya semua berjalan seperti biasa nya.
Kebersamaan lagi yang kami bina. Saling mengerti dan memaafkan, itulah kunci
yang membuatkan kami berbaikan kembali. Dan saya sangat bangga.
SMKN Gudo Jombang, disana saya mengenal bapak ibu guru yang giat
dalam melaksanakan tugas nya. Bapak ibu guru yang sangat ramah dengan kami.
Walau memang ada beberapa guru yang seperti nya tak suka dengan kehadiran kami,
tapi itu tak membuat kami menyerah. Saya bersyukur, saya dibimbing oleh ibu
guru yang sangat baik menurut saya. Ibu guru yang sangat percaya pada saya
walau baru saja mengenal saya. Ibu guru yang ramah dan menyenangkan.
Disana pula, saya mengenal anak-anak yang manis walau sedikit
bandel, tetapi mereka tetap pada batasan nya. Walau saya hanya ditugaskan untuk
mengajar kelas XI, tetapi semua nya terkesan bagi saya.
Kelas X, anak-anak yang baru memulai kedewasaan nya. Sikap dan
sifat yang masih teradaptasi dari masa SMP nya. Sedikit tak bisa dinasehati.
Dan berlaku semau-mau nya tanpa memperhatikan peraturan sekolah. Sikap yang
masih kurang menghormati guru nya. Tetapi saya memaklumi, mungkin mereka hanya
butuh waktu untuk dewasa, butuh waktu untuk patut di sebut siswa SMA.
Kelas XI, anak-anak didik saya yang menurut saya satu-satu nya
tingkatan yang bisa dipegang, yang bisa dinasehati, dan yang bisa diatur dengan
baik. Banyak sekali kesan yang tertinggal dari mereka. XI TKJ 3 yang menurut
saya suka mengeluh karena tugas dari saya. XI TKJ 4 yang menurut saya kelas
pasar karena suka nawar dan ramai. Dan XI MM yang tetap anteng-anteng saja. Mereka
yang tak henti-hentinya menorehkan senyum di wajah saya. Dari mulai berperilaku konyol yang
membuat saya tertawa lepas hingga berperilaku tak pantas yang membuat saya
marah. Tetapi saya sangat bangga dengan mereka. Bagaimana pun saya saat
dikelas, mereka masih mengetahui batas mereka sebagai siswa saya. Tetap
menghormati dan menghargai saya.
Dan kelas XII, kelas yang
dihuni oleh siswa-siswi yang sudah merasa berkuasa. Banyak sekali kesan yang
membuat saya jengkel ketika berhadapan dengan mereka. Rasa hormat kepada orang
baru seperti kami malah berkurang. Tak ada beda dengan kelas X yang tak bisa di
nasehati. Tetapi tetap ada beberapa siswa-siswi dari kelas XII yang tetap
menghormati kami, walau kami hanya guru pengganti yang usia nya tak jauh beda
dengan mereka. Tetapi seharusnya saya lebih mendekati mereka agar saya tak
menilai sebelah mata tentang mereka. Saya yakin, mereka tak seburuk apa yang
saya nilai.
Lingkungan baru yang saya tempati itu adalah tempat formal yang
memilki peraturan yang harus ditaati. Peraturan yang ditegakkan agar tercipta
kedisiplinan. Tetapi ada satu peraturan yang membuat saya tak setuju, yaitu jam
istrihat yang kurang tepat. Karena peraturan itu, sehingga membuat saya menjamak
shalat dzuhur setiap hari. Saya tau ini tak benar, tetapi inilah yang bisa saya
lakukan walau dengan terpaksa. Tetapi diluar konteks itu, secara keseluruhan
SMKN Gudo adalah tempat terbaik saya, tempat menyenangkan bagi saya.
Seminggu sudah saya meninggalkan tempat itu. Dan saya masih
sering memimpikan anak-anak didik saya ditegah tidur saya. Saya masih sering
memikirkan bagaimana caranya agar saya bisa kembali. Kembali bersama
teman-teman saya, kembali bersama siswa-siswi saya, kembali di sekolah yang
membuat saya bahagia.
Tak hanya siswa-siswi saya yang saya rindukan. Tetapi juga
teman-teman saya. Walau kami memang kembali ke kampus kami, tetapi kami berada
di gedung yang berbeda, berada di waktu kuliah yang berbeda. Sehingga mungkin
kami tetap tak bisa bertemu seintens waktu kami berada di sekolah.
Terimaksih semuanya, terimakasih sudah mau mengenal saya. Menerima
segala keterbatasan saya. Semuanya akan terkenang bagi saya. Teman-teman,
guru-guru dan siswa-siswi, terimaksih untuk semuanya…
Saya juga kangen sama bu novel ☺
BalasHapus