Pertama, kamu memintaku
agar tak mengabaikan mu. Kemudian, perlahan kamu menumpahkan harapan yang aku
sendiri tak mengerti artinya apa. Setelah nya, waktu berlalu mengiri
kebersamaan kita. Setiap hari, setiap
waktu kita lalui layaknya mereka yang sedang menjalin kasih dengan pasangan
nya.
Tapi kita…? bahkan kita sama-sama tak tau sedang diposisi
manakah kita saat itu berada. Apa yang sedang kita lakukan hingga kita saling
marah ketika tak dapati kabar satu sama lain. Apakah kita sedang bermain peran
orang dewasa yang berusaha membangun hubungan dan tak mau saling kehilangan? Bukan
kah kita tak sedewasa itu?
Kita berjalan beriringan
di jalan yang sama. Sesekali kita bercanda disepanjang jalan itu, tapi
entah kenapa kita tak pernah melibatkan hati untuk candaan kita. Padahal yang
sebenarnya hatiku juga sangat ingin mengatakan sesuatu yang bukan hanya
candaan.
Munafik!
Berapa lama lagi kita akan seperti ini? Isyarat saja tak cukup!
Mengapa aku merasakan nyaman seperti ini? Entahlah mengapa bisa!
Bahkan untuk menutupi perasaan ini, aku harus benar-benar menahan
dan menutup bibir ku agar beban ini tak segera keluar dari mulut ku. Agar semua
nya akan baik-baik saja.
Benar.. semua ini membuatku semakin sesak. Tapi berbeda dengan
dirimu yang akan selalu terlihat baik-baik saja. Bahkan, sesekali kau
meninggalkan ku dengan tersenyum lepas tanpa beban. Dengan alasan yang
bermacam-macam yang aku sendiri tak mampu untuk tidak mempercayainya. Aku ingin
selalu berpikir positif sehingga kamu paham bahwa aku sedang berjuang untuk
sesuatu. Jika kamu peka, maka tak kan sulit bagiku untuk melangkah.
Sulit rasanya ketika ku temui kenyataan bahwa kita berjalan
dijalan yang sama namun tidak dengan tujuan yang sama. Kemudian kita berpisah
dipersimpangan jalan, kau dengan tujuan mu, aku dengan tujuan ku. Kau tampak
baik-baik saja dengan perpisahan ini. Sedangkan aku? Sudahlah, ini takkan
penting!
Lalu, aku berjalan sendiri dengan kenangan, dengan harapan,
dengan masalah yang tak sempat aku selesaikan. Aku pikir ini tak kan buruk. Bertemu,
mengenal, hingga mengenang adalah serangkaian
rencana Tuhan untuk semua makhluk
Nya.
Tetapi jujur saja, ada bagian yang sangat sakit dalam tubuh ini
ketika aku mencoba untuk berhenti mengagumi mu, berhenti mengharapmu, dan berhenti memikirkan mu. Terlebih, saat
mengingat bahwa kau dan aku tak lagi bersama.
Mengaku baik-baik saja memang mudah, tapi taukah bahwa sebenarnya
untuk mencapai “baik-baik saja” sangat butuh perjuangan dan waktu yang tak
sebentar. Karena itulah, aku tidak yakin bahwa aku sedang baik-baik saja.
Bukan salah waktu atau keadaan, tapi semua nya karena kebetulan.
Jadi, ku biarkan semuanya berlalu dan menghilang. Tugas ku, hanya bertahan dengan
apa yang ku punya, bukan malah mengharap yang bukan untuk ku punyai.
Terimaksih untuk waktu disepanjang jalan tersebut!