Di balik kisah kemarin, sapaan kemarin,
perkenalan kemarin, aku masih bisa menggenggam penuh peristiwa itu. Celotehan
mu tengah malam diujung telepon, tawa mu bagai pengikis hening, segala tentang
diri mu saja dan selalu. Ingatkah dengan janji yang kau ucap dengan gaya bicara
mu yang khas yang biasa kau campur dengan candaan namun penuh keyakinan? Beribu
cara menjadi langkah jitu mu untuk sekedar menghibur dan menemani hari-hari ku.
Kesadaran mu untuk selalu ada untuk ku walau hanya dengan wujud suara mendapat
penghargaan mahal dari ku. Teramat pahit jika semua nya hanya akan berakhir
sebagai kenangan yang tak berkelanjutan.
Sehari, dua hari, perasaan itu datang
dengan tak permisi dan sengaja menjadi racun pembius hati. Tak cukup waktu
untuk sekedar berdiskusi dengan diriku sendiri tentang rasa yang aneh itu. Tak
sengaja pula aku setuju bahwa hal ini seperti menjadi hal yang paten, yang tak
bisa ku sangkal dan ku hindari. Yah benar, aku mencintai mu. Entah dengan
alasan apa. Aku tak punya jawaban yang masuk akal untuk pertanyaan itu. Ini
bukan lagi dilema, tapi satu keyakinan yang aku sendiri belum bisa menjelaskan
mengapa bisa. Perasaan aneh ini muncul dan tiba-tiba menjadi tuan yang
menjadikan ku budak dan memperdayakan diriku sendiri. Aku sangat ingin kau tau.
Namun, ini bukan porsi ku, aku wanita dan sangat tak pantas berbicara tentang
perasaan yang tiba-tiba ada itu.
Kenyamanan yang ku dapati dari dirimu,
dengan segala perhatian dan tutur lembut mu, dengan gampang menjadikan hati
luluh bersama santun nya sikap mu. Aku tak sadar telah jatuh, telah tersanjung,
telah terlena. Aku tak bisa lupa ketika kau menyambut pagi mu dengan menyapa ku
dan menutup malam mu dengan selalu bercerita tentang hiruk pikuk nya hari mu
dari pagi hingga malam itu, seakan aku menjadi
diary digital mu. Tetapi aku sangat senang bisa menjadi kepercayaan mu.
Hari-hari penuh keceriaan itupun berlalu.
Cerita yang ku dengar setiap malam itupun tak bisa lagi ku dengar. Aku bagai
diary yang telah tutup halaman. Kau tiba-tiba melukis luka hati, menyayat nya
dengan langkah kepergian mu. Kabar tentang mu tak lagi ku dapati. Celotan,
candaan dan tawa mu seketika menjadi keheningan ditengah kerinduan yang sedang
bergelut melawan pertahanan hati ini. Aku sangat tak bisa menerima nya. Tangis
ini pun pecah seketika, hingga tak sanggup menjadi penenang, tak sanggup
menjadi ungkapan, tak sanggup menjadi hal yang meringankan.
Aku masih menanti mu, bahkan hingga saat
ini. Aku masih menunggu. Inilah secuil harapan dari perempuan lugu yang tak
mengerti arti perpisahan yang telah terjadi, ia terus berharap tanpa peduli
realita. Tak cukup jika ku hanya menulis keluhan ku seperti ini. Entah bait
bait doa ku telah tersampaikan kepada Tuhan atau sedang tersendat oleh
pikiran-pikiran buruk ku sendiri. Aku tak tau. Rasanya aku hanya bisa memeluk
mu dengan doa kerinduan ku ini.
Saat ini aku masih disibukkan dengan
rutinitas konyolku, kebiasaan yang aku sendiri tak tau sampai kapan harus ku
lakukan. Yah menunggu mu! itu lah hal yang seperti menjadi kebutuhan
dihari-hari ku. Sangat konyol dan tak sama sekali menyenangkan, tetapi rasanya
aku tak pernah bosan. Aku masih sangat sukar memahami bahwa kau sejatinya telah
melangkah jauh, pergi, tanpa seijin ku. Aku menunggu mu mas! LLL
Tidak ada komentar:
Posting Komentar