Mungkin aku hanya wanita perindu yang tak
tau diri. Kau memang milik ku, namun aku
merasa tak benar-benar telah memiliki mu: raga mu, tawa mu, hingga waktu mu. Aku
masih merasa seperti orang asing yang beberapa waktu lalu kau temukan dari sepi
mu. Aku masih menjadi sosok dari pelampiasan hening waktu.
Seebelum mengenal mu, aku lebih dulu mengenal
pria yang seprofesi dengan mu. Aku belajar dari pengalaman bersama nya. Dari nya
aku paham bagaimana menghargai hak dan kewajiban orang lain. Namun, tau kah kau
bahwa aku ini kekasih mu? Aku mengerti kewajiban mu, namun tak pantaskah ku
sedikit menuntut hak ku?
Sedari pagi kau berangkat mengabdi untuk
negeri mu, bahkan sebelum aku terbangun dari tidur malam ku. Perbedaan waktu
antara kota ku dan kota mu terkadang menjadi
hal yang ku kesalkan. Bagaimana tidak,
ia justru menyatukan waktu santai mu dengan waktu sibuk ku. Hal terburuk adalah
ketika tak ada cukup waktu untuk sekedar bercengkrama dengan mu.
Selepas sore, ketika waktu dinas mu usai,
entah kesibukan apalagi yang harus kau geluti. Aku masih sangat memaklumi. Abdi
negara seperti mu mana mungkin mempunyai cukup waktu hanya untuk wanita yang
tak begitu penting ini. Lagi lagi aku harus sangat mengerti. Aku hanya kekasih
dari seorang polisi yang sedang memperjuangkan negeri nya, bukan memperjuangkan
wanita nya. Aku harus mengerti itu kan?
Yah, aku tak kan protes apapun lagi. Waktu
mu terbatas untuk tugas. Aku pun tak kan membatasi keinginan mu. Tak dipungkiri,
aku hanya punya lengan yang tak bisa sampai memeluk mu, punya telinga yang tak
bisa sampai mendengar tawa tangis mu, punya mata yang tak bisa sampai melihat
senyum mu. Mungkin itu kesalahan yang kita buat dengan sengaja.
Sejauh dari peristiwa perkenalan itu
berlangsung hingga saat ini, kau masih menjadi penguasa perhatian ku. Lalu perhatian
mu? Aaah aku selalu mempertanyakan itu, hal yang sudah jelas jawaban nya. Kau tak
punya banyak waktu dan aku harus mengerti, yah lagi-lagi itu yang harus ku
dengarkan dari tutur mu.
Tau kah kau, aku hanya mengaharap kabar
dari mu, mengaharap ucapan-ucapan manis walau hanya untuk pengantar tidur ku, sehari
sekali saja! Cukup. Kadang aku ingin sekali menjadi pendengar keluh kesah atas
penat nya hari-hari mu. Menjadi tempat pulang ketika lelah mu. Menjadi peneduh
lara mu. Menjadi alasan senyuman ditiap hari mu.
Selamat bertugas sayang! Abaikan semua
permohonan ku, itu hanya akan menjadi penghambat karir mu. Aku menyayangi mu,
juga sangat yakin kau pun mencintai ku. Semoga selalu dalam lindungan-Nya. Abdikan
jiwa raga mu sepenuhnya untuk bumi kandung ini. Aku bangga memiliki mu. (Bripda
Iqbal Ramdhani)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar