Bercanda, lagi-lagi hanya bercanda.. .
Aku rasa aku masih bercanda, seperti beberapa waktu yang lalu aku hanya sedang bercanda. Aku hampir tak mau percaya bahwa perasaan aneh itu muncul dengan tak permisi padaku, padahal aku sama sekali tak menginginkan nya. Tak tau jelas juga mengapa bisa sampai sejauh ini. Tolonglah, apakah saat ini aku benar-benar hanya sedang bercanda?
Lelaki yang seharusnya tak ku beri perhatian lebih, justru menjadi perhatian ku saat aku sedang berada di kelas. Lelaki yang pada semester awal benar-benar tak ku sukai. Semester pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima, dan akhirnya aku jatuh pada semester keenam ini. Entah ini hanya tertarik atau apa semacam nya. Oh tuhan, aku rasa aku sedang bercanda...
Aku bahkan pernah membenci nya, tapi sekarang mengapa? Mengapa harus ada perasaan yang begitu tak masuk akal ini. Aku hanya yakin bahwa aku sedang bercanda... oh Tuhan.. apa yang telah terjadi. Dengan begitu cepat perasaan itu hadir, dan berbalik seketika.
Andai aku tak menemui mu saat itu, andai aku tak bersama mu ketika itu, andai bukan aku yang menemani mu waktu itu. Aku rasa ini sangat rumit. Sejak saat itu, aku merasa kau sengaja memberi kenyamanan terhadap ku. Dan berakhir seperti ini, berakhir dengan keraguan atas diriku sendiri. Aku masih tak percaya dengan diriku.
Pertama, kau mengajak ku kerumah mu. Kedua, kau mengajak ku menjenguk teman mu. Ketiga, kau mengajak ku merayakan hari ulang tahun mu. Aku harap hanya itu, dan tak lagi ada pertemuan keempat, kelima atau seterusnya.
Jujur saja, aku masih berada dalam dilema ku sendiri. Aku mohon jangan lagi membuatku tertarik pada mu, kagum pada mu, suka pada mu, atau bahkan jatuh hati pada mu. Jangan lagi memperlihatkan kemampuan mu yang selalu membuat aku nyaman saat berada disamping mu. Aku semakin takut jika yang terjadi adalah aku merasa tak ingin kau jauh. Aku takut jika yang terjadi adalah aku menyayangi mu.
Belum saja semua itu terjadi, aku dan kau seperti sedang sama-sama menghindar. Seolah-olah kau tau perasaan ku, dan aku tau perasaan mu. Terasa canggung ketika bertemu. Terasa tersiksa ketika berhadapan dengan mu.
Dan sore ini, kau berhasil menyinggung perasaan ku. Perasaan yang harusnya tak perlu kau singgung karna ada kamu di dalam nya. Akhirnya membuat ku sadar, bahwa aku sudah terlalu jauh dan semakin tak tau diri.
Oh Tuhan... mengapa Kau berikan kesempatan kepada kami untuk saling berdekatan waktu itu? Apakah ini termasuk bagian dari skenario kehidupan yang sengaja Kau atur, Tuhan? Lalu, patutkah aku memelihara perasaan ini, atau bahkan harus segera melumpuhkan nya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar