Untuk
mas yang pernah ku sebut kekasih terhebat dalam beberapa postingan akun sosmed
ku. Kau pun tau, kau pernah menjadi kebanggaan ku. Kita pernah dalam keadaan
saling menjaga. Antara kau dan aku pernah menjadi kita dan satu. Dengan lembaran-lembaran
harapan, paragraf serta bait mimpi yang selalu membalut semangat ku.
Suara lirih yang hingga sekarang masih
membeku dalam suasana malam kamar ku, menjadi satu bersama hembusan angin yang
menerobos masuk melalui jendela, seakan tak bisa ku hindarkan dari telinga ku.
Bahwa aku masih terbiasa dengan suara ujung telepon yang setiap saat kau
hantarkan dengan berbagai alasan, entah sekedar mengingatkan makan, minum obat,
sholat, dan hal kecil lain nya.
Sikap bijak dan kedewasaan mu, tak lantas menjadikan ku luruh
dengan segala tingkah laku mu. Tubuh
perkasa, dengan seragam coklat serta cabaret biru yang selalu menjadi
kebanggaan ku, mengilhami pembawaan mu yang begitu mengagumkan. Apapun tentang
kau, menjadi begitu manis dan menarik untuk diperbincangkan.
Namun, menjadi masalah besar ketika aku menuntut waktu mu lebih
dari waktu dinas mu. Aku sangat bodoh dan tak mengerti. Hal apa yang menjadikan
ku seegois ini. Aku tak pernah sangka kau bahkan memarahi ku ditengah malam
seperti itu. Kau menggunakan kalimat-kalimat yang sebelum nya tak pernah ku
dengar bahkan dari orang tua ku sendiri. Kau membentak dan begitu kasar. Sikap
lembut yang pernah aku harapkan dari anggota polri seperti mu ternyata hanya
berwujud dalam bayayangan ku saja.
Bukankah malam itu aku hanya sekali menggangu waktu patroli mu?
Namun hingga sampai kau tak menggunakan hati dan perasaan mu untuk memarahi ku.
Entah kau atau memang aku yang keterlaluan. Suara lirih yang selalu aku dengar
setiap malam berubah seketika menjadi suara keras tak berperasaan.
Hentakan emosi yang berhasil menghentikan aliran darah ku dalam
sepenggal waktu itu, membuat ku diam tak berucap satu kata pun. Batas pandangan
ku hingga tak mampu melebihi sejengkal jari. Hela napas semakin kuat tak biasa.
Tetesan air yang menghangat dipipi pun tak lantas menjadi deras. Sebegitu
sensitive nya kau, semarah itu kau demi membela profesi mu. Hal itu benar,
tetapi aku tak membenarkan sikap mu terhadap ku.
Seharusnya, kau tak perlu repot-repot membuatku jatuh hati.
Semua terasa percuma dan untuk apa? Kau bahkan dengan mudah menjahit luka hati
lalu kemudian mencabik kembali menjadi serpihan usang tak bertuan. Kau pergi dengan
satu pertanyaan yang mungkin belum sempat kau luruskan. Trimakasi dan maaf mas!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar